google

Secara umum ada beberapa catatan bahwa ada beberapa amalan yang dilakukan Rasulullah SAW. saat haji Wada, yang sekarang tidak dilakukan oleh hampir seluruh jamaah haji, diantara lain :

Pertama, cara Tawaf dan Sai menggunakan kendaraan, saat ini tidak ada, karena hal itu akan menganggu jamaah haji yang lain.

Kedua, tradisi membawa al-hadyu dari miqat seperti yang dilakukan Rasulullah SAW.

Ketiga, tradisi singgah di Namirah, kemudian pindah ke Wadi Urnah lalu ke al-Sakhrat di Arafah. Saat ini, sepanjang pengetahuan penulis tidak ada yang memperdulikannya.

Keempat, untuk jamaah haji Indonesia saat ini mayoritas tidak melakukan haji Tarwiyah, dalam arti, melakukan ihram pada tanggal 8 Zulhijah waktu dhuha dan berangkat ke Mina sekaligus bermalam di sana, kemudian pagi harinya berangkat ke Arafah. Biasanya jamaah haji Indonesia melakukan ihram tanggal 8 Zulhijah sore hari di Makkah langsung berangkat ke Arafah dengan bermalam di sana.

Kelima, pada umumnya jamaah haji melakukan salat magrib dan isya di Arafah pada malam tanggal 10 Zulhijah, padahal Nabi melaksanakan salat magrib dan isya secara jamak tidakhir dan qasar di Mudzalifah.

Keenam, pada umumnya jamaah haji Mabit di Mudzalifah dengan cara melewati Mudzalifah dan turun dari kendaraan untuk mengambil batu, padahal Rasulullah SAW. di Mudzalifah istirahat, kemudian salat subuh di tempat ini sekaligus zikir dan wukuf. Baru kemudian menjelang terbit matahari beliau berangkat menuju Mina untuk melempar jumrah Aqabah.

Ketujuh, pada umumnya jamaah haji baik yang ikut Nafar Awal atau Nafar Sani langsung pulang ke Makkah tanpa singgah di Wadi Muhassab seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. dan para sahabatnya.d

Perbedaan antara cara haji Rasulullah SAW. dan cara haji saat ini seperti tersebut di atas, secara Fikih tidak mempengaruhi sah tidaknya haji. Sebab amalan-amalan yang berbeda di atas oleh para fuqaha dianggap sunnah saja. Dengan demikian, ketidak sesuaian inovasi manasik saat ini dengan manasik Rasulullah SAW. secara Fikih tidak mempengaruhi sah dan tidaknya ibadah haji.

Namun alangkah baiknya jika kita mencapai kesempurnaan ibadah haji dengan meniru cara haji Rasulullah SAW. yakni dengan berusaha untuk meniru cara berhaji Rasulullah SAW. tanpa mengecilkan dan menyalahkan orang lain yang tidak secara total mengikuti cara haji Rasulullah SAW.

Referensi: Dr. H. Imam Ghazali Said, MA., Praktik Manasik Haji & Umrah Rasulullah SAW.ullah SAW, 2012, Diantama: Surabaya.