Kisah ini sudah sering kita dengar, baik di pengajian maupun ceramah para ustaz atau dai. Kisah ini merupakan sebuah Qudwah bagi siapa saja yang ingin kembali dan berjalan di jalan Allah SWT.

Kisah ini merupakan kisah sufi atau dengan kata lain ahli tasawuf. Para pengamal tasawuf ialah mereka orang-orang yang sengaja menjauh dari kehidupan duniawi walaupun kesemarakan dunia senantiasa mendatangi dan menhampiri mereka. Karena tujuan hidupnya hanyalah kehidupan yang hakiki yakni kehidupan akherat.

Dahuli pernah dikisahkan ada seorang lelaki yang shaleh yang dikenal dengan panggilan Sulaiman, ia dermawan, ahli ibadat, dan terkenal dengan kebaikan, bijaksana dan kebajikan-kebajikan hidupnya. Pada suatu waktu datang seorang kawannya, sebut saja namanya Al-Khoir yang merupakan seorang saudagar yang tajir ke rumahnya. Dalam silaturahimnya, kedua kawan tersebut sepakat untuk pergi menunaikan haji ke tanah suci Makkah bersama-sama. Maka niat baik itupun disepakati dan segala sesuatunya akan dilengkapi dan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Setelah semuanya telah siap. Mereka sepakat untuk menyetor ONH. Ketika pada suatu sore, Sulaiman berjalan diantara perumahan sempit dan kotor, kemudian dia mendengar suara tangisan, rintihan anak kecil yang meminta-minta sesuatu kepada ibunya. Rumah itu dihuni oleh seorang janda yang miskin dengan beban beberapa orang anak. saking dari miskinnya si janda tidak mempunyai apa-apa untuk dimasak. Demi menghibur anaknya, dia memasak batu agar terlihat seolah-olah sedang memasak. Seketika itu, Sulaiman mengurungkan niatnya untuk pergi haji, lalu uang setoran haji tersebut ia sedekahkan kepada janda miskin tadi. Tentu saja jumlahnya sangat besar bagi ukuran keluarga miskin tersebut.

Ketika kedua teman tadi bertemu, Sulaiman memberitahukan kepada Al-Khoir, bahwa dirinya tidak jadi berangkat haji karena suatu hal. Tentu Al-Khoir kaget bercampur kecewa, namun dia juga memahami keadaan Sulaiman. Maka berangkatlah Al-Khoir ke Makkah sendirian tanpa sahabatnya tersebut.

SubhanAllah, kebesaran Allah SWT, pada suatu ketika Al-Khoir sedang tawaf di Kaa��bah, dia bertemu dengan sahabatnya tadi dan bahkan Sulaiman memberikan sebuah tasbih kenangan kepadanya. Dia pun bersukacita karena kawannya ternyata juga pergi haji. akan tetapi karena sedang beibadah dan keadaan tawaf juga penuh sesak dengan jamaah haji lainnya, mereka tidak bertemu lagi setelah tawaf tersebut.

Ketika Al-Khoir sudah selesai mengerjakan ibadah hajinya dan kembali ke kampung halamannya, ia juga bercerita kepada para penziarah ke rumahnya bahwa dia bertemu juga dengan Sulaiman saat melakukan tawaf. Bahkan dia juga memberikan saya hadiah kenangan berupa tasbih ini yang saya pakai, demikian cerita Al-Khoir kepada para penziarah.

Pada saat Sulaiman mengunjunginya, Sukacita Al-Khoir kepada sahabat dekatnya itu, dia memeluknya erat-erat. Dan mencuatlah kisah yang Al-Khoir alami ketika tawaf bertemua dengannya. Tapi Sulaiman menyangkalnya dan mengatakan saya tidak ke Makkah. Tentu saja Al-Khoir terkejut dan menganggapnya sedang bergurau. Tetapi, tentu saja untuk meyakinkan Sulaiman, Al-Khoir mengatakan bahwa kamu memberikan saya tasbih yang saya pakai ini.

SubhanAllah. Ternyata memang Sulaiman secara fisik tidak melakukan ibadah haji. Namun, secara ruhani dan pahala, ia seolah-olah melaksanakan haji tersebut. Dan orang yang Al-Khoir temui di Kaa��bah ketika tawaf adalah malaikat yang menghajikan Sulaiman berkat keyakinan dan kepasrahannya yang tinggi kepada Allah SWT, berkat pertolongannya membantu janda miskin yang tak mampu memberikan apapun kepada anaknya tadi. Sehingga pahala yang didapat Sulaiman berlipat-lipat ganda. Pahala sedekah dapat, begitu juga dengan pahala haji.

Maha kuasa Allah SWT dan maha atas segalannya, termasuk terhadap hamba-Nya yang bertakwa. Sebuah kisah yang menarik untuk senantiasa kita jadikan renungan agar kita semua selalu berbagi agar bermanfaat pada sesama, khususnya terhadap orang fakir dan miskin sebagai wujud dari ajaran dan dimensi semua rukun Islam bagi orang muslim.