Pembaca Media Ikhram yang budiman, berbicara mengenai sejarah perkembangan Islam di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari pendidikan yang ada di dalamnya. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 50-an, ketika Wahid Hasyim ditunjuk sebagai menteri agama dalam tiga kabinet secara terus-menerus (yaitu kabinet Hatta, Natsir, dan kabinet Sukiman), merupakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam upaya meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia ketika itu.

Walaupun Kementerian Agama (Kemenag) sudah ada sejak kabinet Syahrir yang dibentuk pada tanggal 3 Januari 1946, tetapi karena belum amannya keadaan pada saat itu hingga adanya pengakuan kedaulatan negara Indonesia di bulan Desember 1949, Kemenag mempunyai peran yang cukup berarti. Adalah Kyai Abdul Wahid Hasyim yang saat itu ditunjuk sebagai Menteri Agama melakukan usaha dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Berikut adalah usaha yang dilakukan Wahid Hasyim dalam melakukan pembaruan pendidikan selama dirinya menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 50-an.

Memasukkan pelajaran agama

Kyai Wahid Hasyim sadar bahwa sejak sistem pendidikan nasional mengadopsi sistem Barat yang hanya memfokuskan pendidikan pada pelajaran sekuler, banyak yang hilang dari pendidikan terutama yang berkaitan dengan nilai dan moral. Maka, Wahid Hasyim menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus memasukkan pelajaran agama dan harus diberikan secara seimbang dengan pelajaran umum.

Berkat usaha itulah, akhirnya melalui SK bersama antara kementerian agama (Kemenag) dan kementerian pendidikan (sekarang Kemendikbud), pemerintah mengeluarkan peraturan tertanggal 21 Januari 1951 yang mewajibkan pelajaran agama harus diajarkan di sekolah umum. Bukan hanya itu, berkaitan dengan kurikulum pada tahun sebelumnya, Wahid Hasyim juga mengeluarkan Peraturan Menteri Agama No. 3 tertanggal 11 Agustus 1950 yang mewajibkan adanya pelajaran umum diajarkan di madrasah.

Mendirikan PTAIN

Sekitar tahun 50-an, tepatnya pada 26 Desember 1951, Wahid Hasyim juga mendirikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) di Yogyakarta, yang selanjutnya berkembang menjadi empatbelas IAIN. Satu IAIN di tiap provinsi, kurang lebih menampung tiga puluh ribu mahasiswa. Selanjutnya, perkembangan IAIN sangat tergantung kepada perkembangan madrasah dan PGA (Pendidikan Guru Agama), karena IAIN adalah perguruan tinggi yang calon mahasiswanya banyak berasal dari madrasah dan PGA yang ingin melanjutnyak pendidikannya.

Meskipun maksud Wahid Hasyim, pembentukan IAIN tersebut adalah bertujuan untuk mencapai kemajuan dengan memberikan penekanan pada pengembangan berpikir rasional, tetapi dalam perkembangannya institusi ini banyak menghadapi problem. Salah satunya adalah munculnya dualisme dalam sistem pendidikan. Di satu sisi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) mengembangkan sistem pendidikan berorientasi Barat, tetapi di sisi lain usaha Wahid Hasyim di Departemen Agama menerapkan sistem pendidikan berorientasi pada institusi pesantren.

Tetapi, pengambilan kesimpulan (pandangan dualisme) seperti itu menurut Zamakhsyari Dhofier, samahalnya menafikan fakta-fakta sejarah Indonesia. Bahkan melihat ini, Dhofier memandang bahwa Wahid Hasyim telah sukses menjadikan Departemen Agama sebagai jembatan antara tradisi pesantren dengan peradaban modern. a�?Wahid Hasyim adalah mata rantai yang kuat yang menjembatani tradisi pesantren dengan dunia modern di Indonesia,a�? kata Dhofier seperti dikutip dalam buku The Islamisation of Java.

Nah, pembaca Media Ikhram yang budiman, sebenarnya masih banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh Kyai Wahid Hasyim ini seperti bagaimana ia melakukan pembaruan pendidikan di Pesantren Tebu Ireng dan Madrasah Nizamiyah, serta di pendidikan NU (Maa��arif). Akhirnya, semoga ulasan singkat sejarah ini bisa bermanfaat dan menjadi motivasi bagi pembaca untuk meneruskan perjuangan Kyai Wahid Hasyim (Allahummaghfirullah). Amin

Sumber: Achmad Zaini, K.H. Abdul Wahid Hasyim; Pembaru Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan, (Jombang: Tebuireng, 2011).