Mengusap-Usap Maqom Ibrohim untuk Mencari Berkah, Bolehkah?

0
364

Ketahuilah hukum mengusap-usap makam ibrahim bagi jamaah ini.

Sahabat ihram, makam Ibrahim bukan kuburan Nabi Ibrahim as sebagaimana banyak orang berpendapat. Maqam dalam bahasa Arab artinya tempat berdiri. Makam Ibrahim adalah tempat berdirinya Nabi Ibrahim saat membangun kembali Ka’bah. Makam Ibrahim merupakan bangunan kecil terletak di sebelah timur Ka’bah. Di dalam bangunan tersebut terdapat batu yang diturunkan oleh Allah dari surga bersama-sama dengan Hajar Aswad. Di atas batu itu Nabi Ibrahim berdiri di saat beliau meninggikan bangunan Ka’bah dari pondasinya.

Nabi Ismail as membantu meletakkannya agar Nabi Ibrahim as dapat naik lebih tinggi di atas batu tersebut. Dan tempat pijakan dua kaki nabi Ibrahim itu dengan seizin Allah berbekas di atas batu tersebut dan masih tetap ada sampai sekarang. Abu Thalib pernah berkata dalam satu qasidahnya yang berkaitan dengan Makam Ibrahim: Artinya, ” Pijakan Ibrahim tercetak di atas batu dengan jelas membentuk dua telapak kakinya yang telanjang tidak beralas”.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqom Ibrahim” (QS. Al Imran: 96-97).

Dan tidak ragu lagi bahwa al bait dalam ayat ini adalah Masjidil Haram, Ka’bah, Maqom Ibrahim*), baik yang dimaksudkan adalah batu tempat Ibrahim dahulu berdiri di situ, ataupun Masjidil Haram secara keseluruhan.

Tidak dipungkiri semuanya baik baitullah maupun maqam Ibrahim mengandung keberkahan karena Allah telah mengistimewakannya dan memberikan mereka keutamaan daripada tempat yang lain dan bangunan yang lain.

Dan keberkahan yang ada di tempat-tempat tersebut cara mendapatkannya adalah dengan mengerjakan apa yang Allah syariatkan di sana: dengan thawaf, i’tikaf, dan shalat. Sebagaimana firman Allah:

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” (QS. Al Baqarah: 125).

Lalu bagaimana dengan kebiasaan mengusap sebagian muslim yang beribadah di makkah untuk mengharapkah berkah?

Yang perlu kita ketahui adalah Allah tidak mensyariatkan perbuatan mengusap-usap satu bagian pun dari Ka’bah kecuali pada dua rukun Yamani. Maka, Hajar Aswad memang disyariatkan untuk menciumnya dan menyentuhnya serta rukun Yamani disyariatkan untuk menyentuhnya dengan tangan. Ini dalam rangka mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan tidak disyariatkan mengusap-usap pada bagian baitul haram kecuali pada kedua rukun Yamani tersebut. Dan Umar radhiallahu’anhu ketika beliau menyentuh Hajar Aswad beliau berkata: “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau hanyalah sebuah batu yang tidak bisa memberi bahaya maupun manfaat. Andai aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menciummu, aku tidak akan menciummu“.

Dalam riwayatpun Nabi Muhammad SAW tidak mecontohkan untuk mengusap-usap maqom Ibrahim, atau tempat kaki Ibrahim. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah shalat di dekat maqom Ibrahim setelah selesai thawaf. Beliau mendatangi maqom Ibrahim lalu membaca firman Allah:

“Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat” (QS. Al Baqarah: 125).

Lalu beliau shalat thawaf dua rakaat. Lalu di dalam shalat tersebut beliau membaca surat Qul yaa ayyuhal kaafirun dan Qul huwallahu ahad. Maka jelas sudah bahwa beliau tidak menganjurkan untuk mengusap-usap tempat kaki Ibrahim di maqom Ibrahim tersebut. Dan tidak ada keberkahan dengan mengusap-usapnya karena tidak disyariatkan oleh Allah untuk melakukannya, walaupun memang ia mengandung keberkahan.

Maka Ka’bah itu seluruhnya mengandung keberkahan, namun tidak disyariatkan mengusap-usapnya kecuali pada dua rukun Yamani sebagaimana telah kami jelaskan.

Maka jelaslah sahabat ihram, sebaiknya seorang muslim adalah mereka yang bersemangat mengerjakan apa yang dibimbing oleh Rasulullah dan meneladani beliau. Allah telah menjadikan beliau sebagai imam dan teladan bagi anda. Maka janganlah anda melebih-lebihkan dari apa yang beliau sunnahkan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21).

Semoga bermanfaat.