Pakaian ketat; Hai Istri, Bolehkah Berpakaian Ketat di Hadapan Suami?

0
1256

Pakaian ketat yang perlu diketahui oleh para istri.

Tren mode pakaian setiap hari berubah-rubah. Perempuan selalu dimanjakan dengan ragam model baju yang mendukung penampilan mereka agar tampil lebih menarik. Lumrah jika setiap perempuan ingin tampil cantik salah satunya dengan pakaian ketat, dan ia selalu berusaha untuk mengenakan pakaian yang indah dan biasanya mahal.

Diluar dari mode pakaian, sering kita temui muslimah yang sangat percaya diri mengenakan pakaian yang sangat ketat. Lekuk tubuhnya terlihat, ini sangat mengganggu pengelihatan, dan bisa mengundang nafsu birahi laki-laki. Pakaian ini sungguh sangat dilaranh dalam islam, karena pakaian itu membungkus hingga tidak terlihat apa didalam bungkus tersebut. Lalu bagaimana jika memakai pakaian yang ketat didepan suami?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan, boleh saja seorang istri mengenakan pakaian ketat di hadapan suaminya. Seperti ini tidak dianggap sebagai bentuk menyerupai pakaian orang kafir. Karena yang disebut tasyabbuh atau menyerupai orang kafir yang terlarang adalah menyerupai pada sesuatu yang jadi ciri khas mereka, yang di mana yang ditiru bukanlah hal yang ditemukan pada kaum muslimin.pasanganKata beliau lagi, memakai pakaian yang kecil (ketat) termasuk dalam bentuk berhias di hadapan suami. Seperti itu tidak disebut tasyabbuh yang tercela. Karena semua orang melakukan hal yang sama, bukan orang kafir saja.

Namun hati-hati jika bertabarruj (berdandan) seperti itu untuk di luar rumah atau berhias seperti itu di hadapan yang bukan mahram, jelas seperti itu dilarang. Dalil yang menunjukkan hendaknya wanita tidak memakai pakaian ketat (saat keluar rumah) adalah hadits dari Usamah bin Zaid di mana ia pernah berkata.

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya.’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan).

Ini adalah sejelas-jelasnya dalil yang menunjukkan haramnya mengenakan pakaian yang membentuk lekuk tubuh. Pakaian Quthbiyyah adalah pakaian dari Mesir yang tipis. Jika tidak dikenakan baju rangkap di dalamnya, maka akan nampak bentuk tulangnya sehingga nampaklah aurat wanita. Bahkan nampak pula warna kulitnya. Demikian kata Syaikh ‘Amru bin ‘Abdil Mun’im Salim dalam kitab beliau Jilbab Al Mar-ah Al-Muslimah, hlm. 23.beda-pendapatAdapun larangan tabarruj disebutkan dalam ayat;

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu” (QS. Al-Ahzab: 33).

Jadi boleh mengenakan pakaian ketat hanya dihadapan suami, karena suami adalah mahrom yang halal bagi istri. itu juga merupakan salah satu bentuk ibadah jika suami menyukai istrinya berpakaian ketat hanya untuknya saja, tentunya berpakaian ketat didalam rumah atau hanya didalam kamar saat berdua. Selebihnya, untuk para muslimah yang belum menikah ataupun sudah menikah. Hukumnya seperti orang jahiliyah zaman dulu jika kita mengenakan pakaian ketat diluar rumah, yang akhirnya bisa mengundang nafsu jahal laki-laki. Na’udzubillah.