Ternyata hukum itikaf bagi muslimah itu ada perbedaan pendapat, sebagaimana berikut ini.

Pada dasarnya itikaf di masjid memang dianjurkan, namun jika hal tersebut mendatangkan kemodorotan, lebih baiknya dikoreksi kembali niatnya, terutama bagi perempuan atau muslimah yang belum tau hukum itikaf di masjid. Hal ini untuk kebaikan, baik bagi muslimah itu sendiri maupun yang lainnya.

Iktikaf merupakan kegiatan berdiam diri sepanjang malam. Kegiatan ini mewajibkan digelar di masjid, bukan mushola apalagi rumah. Aktivitas ini lebih banyak dilakukan oleh laki laki, adapun wanita melakukan iktikaf, masih jadi persoalan antara membolehkan atau tidak.

Aktivitas ini dijalankan dalam rangka memperbanyak ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan. Selain itu, para Muslim juga berusaha agar tidak ketinggalan meraih malam lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hingga terus memperbanyak ibadah hingga ramadan berakhir.

Kebanyakan orang yang beriktikaf adalah pria. Sementara ada sebagian yang menjalankan iktikaf adalah kaum wanita. Lantas bagaimana hukum itikaf wanita yang menjalankan iktikaf?. Terkait hal ini, Imam Bukhari mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah RA.hukum itikaf

“Nabi SAW biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan. Aku mendirikan tenda untuk beliau. Kemudian beliau melaksanakan sholat Subuh dan memasuki tenda tersebut. Hafshah meminta izin pada ‘Aisyah untuk mendirikan tenda, ‘Aisyah pun mengizinkannya. Ketika Zainab binti Jahsy melihat Nabi SAW beriktikaf dalam tenda, ia meminta untuk didirikan tenda, lalu didirikanlah tenda yang lain. Ketika di Subuh hari lagi Nabi SAW melihat banyak tenda, lantas beliau bertanya, ‘Apa ini?’ Beliau lantas diberitahu dan beliau bersabda, ‘Apakah kebaikan yang kalian inginkan dari ini?’ Beliau meninggalkan iktikaf pada bulan ini dan beliau mengganti dengan beriktikaf pada sepuluh hari dari bulan Syawal.” (HR Bukhari).

Sementara Ibnu Hajar Al Asqalani RA dalam Bulughul Maram mengutip hadits lain yang diriwayatkan dari Aisyah RA pula.

“Aisyah RA, ia berkata bahwasanya Nabi SAW biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beriktikaf setelah beliau wafat.

Imam Syafi’i menghukumi makruh wanita yang beriktikaf di masjid umum. Hukum itikaf ini merupakan pendapat yangA�merujuk pada hadits Imam Bukhari yang menyatakan wanita makruh beriktikaf kecuali di masjid rumahnya. Alasannya, wanita itu akan terlihat oleh banyak orang jika beriktikaf di masjid umum.hukum itikaf

Sedangkan ulama Mazhab Hanafi berpendapat hukum itikaf wanita di masjid, wanita boleh menjalankan iktikaf di masjid umum asalkan suda mendapat izin dari suaminya. Ini merupakan pandangan Imam Ahmad yang tertulis dalam kitab Fath Al Bari.

Sementara Ibnul Mundzir berpendapat wanita tidak boleh beriktikaf sampai ia meminta izin kepada suaminya. Jika wanita tersebut pergi beriktikaf tanpa meminta izin, maka sang suami dapat menyuruhnya keluar dari masjid dan menghentikan iktikafnya.

Dalam hal ini tentu kita harus pertimbangkan mana yang lebih banyak, manfaat atau madhorotnya. Apabila lebih banyak madhorotnya, maka dianjurkan bagi wanita untuk memperbanyak ibadah di dalam rumahnya.