Inilah arti berkurban yang sebenarnya menurut Agama.

Ibadah haji dilaksanakan pada bulan Hari Raya Kurban. Mengingat Hari Raya Kurban, kita akan mengenang sejarah kurban oleh Nabi Ibrahim a.s. dan putranya, Nabi Ismail a.s. Nabi Ibrahim sebagai nabi yang meninggikan Kakbah sangat diagungkan, begitu pula pada ketersediaannya mengurbankan putra kesayangannya untuk menjalankan perintah Allah SWT dalam berkurban.

Sejak lama manusia mengenal apa itu kurban, bahkan sebelum Nabi Ibrahim mengalami peristiwa kurban. Manusia telah mengalami dan menjalankan ritual berkurban, dan tak jarang kurbannya adalah manusia untuk dipersembahkan kepada tuhan atau dewa mereka. Misalnya, di Mesir mempersembahkan gadis tercantik kepada Dewi Sungai Nil. Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami Skandinavia berkurbanA�pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang Odin.

Nabi Ibrahim a.s. hidup pada abad ke-18 SM, dimana masa terjadi persimpangan pemikiran kemanusiaan tentang kurban berwujud manusia. Kurban berwujud manusia mendapat dua tanggapan, yang setuju akan mempertahankan dan yang tidak setuju beranggapan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia dan memiliki nilai yang tinggi untuk dikurbankan kepada Zat yang disembah.berkurban

Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah SWT melalui suatu mimpi untuk menyembelih anak tercintanya, Nabi Ismail a.s. Dengan iman yang mantap. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menerima dengan ikhlas untuk menjalankan perintah Allah SWT. Tiada sesuatu yang dinilai lebih tinggi dibandingkan perintah Allah SWT bagi mereka. Ketika Nabi Ibrahim siap menyembelih anaknya sebagai kurban dengan pisau, tiba-tiba atas izin Allah, seekor domba menjadi pengganti Nabi Ismail.

Melihat keajaiban peristiwa itu, ajaran Nabi Ibrahim a.s. telah memberikan jalan keluar yang bijak bagi semua pihak. Kurban dalam ajaran Islam adalah dengan menyembelih hewan ternak, seperti kambing/ domba, sapi, atau unta. Allah SWT memberikan isyarat bahwa Allah SWT berterimakasih kepada manusia yang mau menjalankan perintah-Nya (berkurban) sampai kepada hal yang sangat dicintai manusia itu, sehingga kurban manusia tidak diperkenankan.

Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim a.s. ini diperingati oleh kaum muslim dengan Hari Raya Kurban atau Idul Adha. Berkurban dengan hewan atau binatang memberikan makna pada kaum muslim yaitu membuang sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, seperti rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak patuh pada aturan. Sifat-sifat binatang seperti itu harus ditiadakan dan dijadikan kurban demi mencapainya qurban (kedekatan) diri pada Allah SWT. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj [22]: 37;hewan terbesar

U�UZU�U� USUZU�UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�UZ U�U?O�U?U?U�U?U�UZO� U?UZU�UZO� O?U?U�UZO�O�U?U�UZO� U?UZU�UZU�U?U?U�U� USUZU�UZO�U�U?U�U? O�U�O?U�UZU�U�U?UZU�U� U�U?U�U�U?U?U�U� Usa��.

a�?Daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaannlah yang dapat mencapainyaa�?.

Menyembelih hewan kurban kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangga merupakan hal yang baik sesama manusia. Dengan berbagi maka seseorang telah meringankan beban orang lain, membela orang-orang yang lemah, dan mengangkat derajat kemanusiaan. Berkurban dengan ketaqwaan yang ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT insyaallah akan mendekatkan diri pada Allah SWT. Hari Idul Adha harus mampu mengingatkan kita bahwa yang disembelih tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada pada tiap diri manusia. Allah SWT telah menyelamatkan manusia dan menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengangkat derajat manusia yang tidak boleh menjadi kurban.

Nah, sudah taukan hikmah berkurban itu. Yuk niatkan dan persembahkan hewan kurbannya dengan sebaik mungkinA�ya.