Bagaimana Jika Kain Ihram Terkena Najis

0
851

Ketahuilah bagaimana jika kain ihrammu terkena najis ini

Tahap awal pelaksanaan Ibadah haji di mulai dari proses Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah sampai Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka orang Muslim yang sedang melakukan ibadah haji tersebut diwajibkan mengenakan pakaian ihram. Masa 3 hari antara tanggal 8-10 Dzulhijjah bukanlah perkara yang mudah, karena para jamaah haji hanya dibolehkan mengenakan pakaian ihram.

Belum lagi adanya larangan-larangan ihram yang bias dikatakan banyak yang perlu diwaspadai oleh jamaah haji. Mengingat aktivitas selama 3 hari itu adalah aktivitas puncak haji di mana seluruh jamaah dari berbagai belahan dunia berkumpul pada tempat yang sama, ARMINA (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Makan antri, wudhu antri, bahkan untuk pergi ke MCK pun harus antri.

Seluruh aktifitas pada hari tersebut cukup menguras tenaga dan perhatian, belum lagi pakaian yang kita gunakan untuk shalat, ibadah, ke MCK dan sebagainya adalah pakaian yang sama yakni pakaian ihram. Sehingga pakaian ihram juga rentan terkena najis. Najis bila diketahui keberadaannya dan bisa terlihat oleh mata dapat mengganggu ibadah. Shalat tidak diterima bila terdapat najis. Apakah najis itu berupa kotoran, bangkai, darah, dan sebagainya. Semua hal yang najis adalah kotor dan dapat merusak ibadah, khususnyashalat. Sebagaimana firman Allah Swt “Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.” QS. 6: 145.

Misalnya pakaian ihram yang dipakai terkena dam (darah), maka para ulama berpendapat bahwa darah yang sedikit (seperti yang keluar dari bisul, jerawat, dan semacamnya) dianggap tidak masalah, sedangkan darah yang dianggap najis adalah darah yang mengalir dan banyak jumlahnya. Boleh jadi ada jamaah haji wanita yang sedang menjalani ibadah haji namun tiba-tiba ia haidh sehingga mengotori pakaiannya. Dalam kondisi ini, jamaah yang mengenakan pakaian ihram terdapat padanya najis boleh melakukan dua hal.

Pertama, mengganti pakaian ihramnya, dan hal ini diperbolehkan. Kedua, mencuci dan membersihkan pakaian ihramnya, sehingga bentuk najisnya hilang dari pakaian. Sebagaimana disampaikan oleh Asma binti Abu Bakar Ra bahwa Rasulullah Saw pernah ditanya tentang pakaian yang terkena darah haidh. Maka Rasulullah Saw bersabda, “Gosoklah najisnya lalu siramlah dengan air sampai bersih”. Bila najisnya sudah hilang, maka engkau boleh shalat dengan mengenakan baju tersebut.” Shahih Ibnu Hibban 1397. Demikian semoga bermanfaat.