Bekal Menuju Mati, Kisah Sedih Rosulullah Saat Kepergian Fatimah

0
1334

Bekal menuju mati yang harus dipersiapkan oleh para ummat islam.

Bekal Menuju Mati; Kisah teladan sahabat nabi juga orang orang disekitar nabi Muhammad tidak akan pernah ada habisnya. Banyak tauladan serta hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran, juga amalan yang patut untuk dijalankan dalam kehidupan sehari hari. Mengingat mulai banyak yang pudar dari nilai nilai norma muslim yang sebenarnya. Juga banyak umat muslim yang tidak mengetahui sejarah nabinya.

Sejarah adalah sumbangis terbesar bagi peradaban maju untuk mengetahui kesuksesan yang pernah dialami di zaman dulu. Islam pada masa Rosulullah mengalami kejayaan yang sangat besar. Sehingga kisah tentang masa hidup Rosulullah tak pernah habis untuk di tulis. Sebagai umat muslim, kita sangat mencintai Rosulullah sebagai rosul Allah yang menyempurnakan akhlak umat muslim di dunia. Dengan ini perlu banyak kita ketaui tentang kehidupan Rosulullah agar menjadi tauladan yang baik untuk kita semua.

Rasulullah tak pernah sedih kecuali saat kepergian sayyidah Khodijah, setelah itu Rasulullah kembali sedih saat menyaksikan kepergian putri tercintanya.

Hari ketiga Ramadan adalah hari wafatnya anak kesayangan baginda Nabi Muhammad SAW, Fatimah Az-Zahra. Fatimah yang juga istri Ali bin Abu Thalib, ini wafat pada 3 Ramadan tahun 11 Hijriah atau 23 November 632 Masehi. Dia dimakamkan pemakaman Baqi, Madinah.

Bekal Menuju Mati; Kepergian ibu dari Hasan dan Husein sungguh menyayat hati dan mengharu biru. Fatimah sebenarnya sudah tahu kapan dirinya akan dipanggil Ilahi. MasyAllah, sungguh Fatimah adalah perempuan yang dicintai Rosulullah, dan mendapatkan rahmat dari Allah, sehingga ia tau kapan ia akan kembali pada Allah. Alkisah saat Rasulullah terbaring sakit, Fatimah tak henti-hentinya bersedih. Rasulullah pun membisikkan sesuatu ke telinga anaknya.best_name

“Aku akan pergi tetapi engkau pertama yang akan menyusul,” ujar Rasulullah dikutip dalam buku Fatimah Az-Zahra karya Sibel Eraslan, Rabu (17/5).
Sontak raut muka Fatimah menjadi senang karena keriduannya kepada ayahanda pasti segera tertambat. Banyak yang ingin tahu apa yang Rasulullah bisikkan kepada Fatimah, namun ditanya berapa kalipun Fatimah bergeming.

Fatimah menyadari ajalnya makin dekat, saat itu dia menemui ayahnya dalam mimpi. “Wahai Fatimah! aku datang untuk memberi kabar gembira kepadamu. Telah datang saat terputusnya takdir kehidupannya di dunia ini, putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah bagaimana kalau besok malam kamu menjadi tamuku?”

Bekal Menuju Mati; Sebelum meninggal, Fatimah berlaku tidak biasa di dalam rumah dia menyisir Hasan dan Husein dengan air mawar dan hati terus bergetar karena tahu dia akan meninggalkan dua buah hatinya. Dia dekap Hasan dan Husein dan diciuminya dalam-dalam.

Ali termenung dan terus memandangi belahan hatinya tersebut. lantas Fatimah berkata, “Wahai Ali. Bersabarlah untuk deritamu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Jangan engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kekasihku, suamiku, teman hidupku yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku”.fatema

Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan. Fatimah lalu meminta kedua anaknya berziarah ke pemakaman Baki. Anak-anaknya menurut. Untuk terakhir kali Fatimah memandang Ali “Halal semua atasku wahai cahaya kedua mataku,” ujar Fatimah memohon maaf.

Fatimah berbaring dan menyuruh Asma binti Umais menyiapkan keperluan dan makanan. Tak disangka beberapa waktu sebelum ditariknya nyawa Fatimah, dua anaknya kembali ke rumah. Fatimah pun menyuruh lagi keduanya pergi ke Raudah, dia tidak ingin anaknya sedih melihatnya menghadap Ilahi.

Dalam kesakitannya, Fatimah berbisik kepada Ali. Dia menitipkan wasiat kepada Ali, yaitu permohonan maaf kepada Ali, meminta Ali mencintai kedua anaknya, meminta dirinya dimakamkan pada malam hari agar saat dikebumikan tidak banyak dilihat manusia, dan meminta Ali untuk sering mengunjungi makamnya.

Saat menitipkan wasiat, tiba-tiba dua anaknya kembali dari Raudah. Sadar kondisi ibunya, mereka mendekap Fatimah erat-erat. Fatimah meminta keduanya agar jangan berpaling di jalan Al-Quran, jalan Rasulullah dan melawan ayahnya.film-maryam

Bekal Menuju Mati; Fatimah meminta semua orang keluar dari kamarnya, dia hendak menyendiri dan ingin bersama tuhannya. Fatimah berpesan jika tidak ada lagi sahutan dari dalam kamar maka jiwanya telah hilang. Dalam sekejap Madinah telah kehilangan mawarnya saat Fatimah kembali keharibaan tuhan.

Fatimah adalah perempuan yang istimewa di sisi Allah. Sehingga ia pun benar benar menyiapkan diri sebaik mungkin saat kembali. Banyak hikmah yang dapat kita petik dari kisah kepergian Fatimah. Diantaranya adalah:

  1. Kematian itu pasti akan datang, maka sebaiknya kita mempersiapkan sebaik baiknya bekal. Memang boleh saja memkirkan dunia. Tapi jangan sampai dunia benar benar menyibukkan kita hingga lupa bekal untuk kehidupan yang kekal di alam akhirat.
  2. Dalam hidup kita tak lepas dari hubungan sosial dengan manusia lainnya. Maka dengan itu seringlah meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain. Bukan karena salah atau tidak salah, tapi untuk benar benar membebaskan kita dari rasa benci.
  3. Kita memang tidak tau kapan datangnya ajal, akan tetapi membuat wasiat saat hidup tidak ada salahnya.

Semoga hidup kita berlimpah berkah, rizki dan ampunan dari Allah. Amin