Kisah Nayata: Perjalanan Jamaah Umroh dan Perokok Berat

0
362

Banyak kisah mengharukan saat perjalanan haji berikut ini.

Sahabat ihram, merokok bukanlah hal aneh yang kita temui. Banyak perokok yang merasa jika tidak merokok maka badan tidak enak semua. Sehingga merokok menjadikan orang candu, karena ada zat yang memang bisa membuat orang ingin terus mencobanya. Rokok adalah kenikmatan yang susah untuk dilepas. Maka sewaktu umrahpun, ada seorang jamaah yang dengan sembunyi-sembunyi memasukkan dua pak rokok ke dalam tasnya.

Agak maksa memang, karena di Makkah dan Madinah, merokok sebenarnya sudah menjadi barang haram. Karena itu tidak ada tempat buat melakukan aktivitas bakar membakar itu. Satu-satunya tempat mungkin hanya di kamar hotel. Tapi, karena ia tidur dengan beberapa orang yang tidak suka rokok, maka sebagai minoritas dia terpaksa menghormati kebiasaan para mayoritas. Alhasil, diapun memilih untuk berdiam diri lebih lama di dalam kamar mandi hotel. Untuk perokok berat, pasti ada saja cara yang digunakan untuk bisa melepaskan hasrat merokoknya.

Itu rencana awal. Karena ternyata kejadian yang ada tidak bisa selalu sesuai dengan rencana awal. Ternyata sulit baginya untuk merokok. Ada aja kejadian yang membuatnya gagal atau ilfil untuk itu. Kadang ada rokok, gak ada korek. Ada korek, rokoknya gak bawa. Ada yang ngasih rokok, eh rokoknya jatuh dan basah jadi ga bisa nyala. Terus pernah seperti ini, rokok sudah ada, korek api pun siap untuk dinyalakan, tempat sudah ada, kok ya ndilalah pas dinyalain tanganya malah kebakar. “Mau merokok kok susah bener, begitu pikirnya.”

Untung orangnya termasuk yang open minded dan gak gampang ngambek. Jadi alih-alih dia menyesali nasib dan nangis sesenggukan di toilet,  dia  lebih memilih istigfar dan mencoba untuk intropeksi diri. Kemudian malah merasa bahwa mungkin ibadah umrah yang dia lakukan tak seharusnya digabung dengan isapan rokok. Ibadah umrah menjadi keinginan semua muslim yang rindu ka’bah. Saat ada kesempatan untuk berangkat beribadah, justru harus digunakan sebaik mungkin. Jangan sampai nafsu sesaat membuat ibadah tidak menjadi khusyu’ dan berakibat fatal.

Saat  Umrah kita pasti suka membuka mata hati lebar-lebar. Kehilangan uang pasti mikir, dosa apa yang telah kita lakukan, setelah itu istigfar. Kehilangan sandal, mikir kesalahan yang mungkin pernah terjadi, setelah itu istigfar. Nyasar, langsung mikir khilaf yang pernah diperbuat, setelah itu istighfar. Tapi biasanya, kalo sudah sampai rumah, kebiasaan buruk itu seringkali berlanjut. Mata hati kembali ditutup. Istighfar jadi barang mahal lagi. Padahal mabruknya orang setelah pergi haji atau umroh adalah dilihat saat setelah beribadah, apakah menjadi manusia yang lebih baik. Atau bahkan jauh lebih buruk.

Kalau dikit-dikit istighfar, dikit-dikit tobat dan setelah itu kita berbuat salah lagi. Pasti disebut tomat alias tobat kumat. Kalo jarang istighfar dan tobat, ntar kita dianggap sombong, udah salah tidak mau minta maaf pula. Semoga istighfar, pertobatan tidak hanya diucapkan di bibir saja. Melainkan antara hati, pikiran dan tindakan harus ada singkronisasi agar tobat yang dilakukan adalah tobat yang sungguh, tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Maka bagi perokok berat yang akan menjalankan ibadah haji atau umroh, selama beribadah coba berhenti total. Dan coba juga rasakan sekaligus bandingkan kondisi tubuh saat merokok dan tidak merokok. Jika lebih enak tidak merokok, tentu kebiasaan ini bisa berlanjut setelah pulang dari tanah Makkah. Semoga kita selalu diberi kemudahan untuk terus berusaha jadi baik. Amin