Wisata ke Turkey yang banak diminati oleh jamaah umrah.

Pernahkah Anda bayangkan bagaimana rasanya perjalanan umrah dengan berkunjung di tempat-tempat wisata? Bagi jamaah umrah Indonesia mungkin akan langsung berpikir Mesir adalah a�?bonusa�?-nya umrah. Tapi sekarang tidak lagi, ternyata hampir semua rombongan umrah memilih mampir ke Turki daripada Mesir. Dengan perkembangan industri pariwisata besar-besaran, Turki akan berpotensi menjadi a�?saingan berata�? Mesir.

Wilayah Turki berada di atas dua benua, Asia dan Eropa, yang dipisahkan oleh Selat Bosforus. Penduduk Turki dalam kesehariannya lebih menonjolkan budaya Barat, namun tidak meninggalkan tradisi keagamaan Islami karena hampir 90 persen penduduknya beragama Islam. Melalui Istanbul-nya, Turki merupakan tempat yang memiliki rekam sejarah yang penting. Dari beradaban kuno dengan bangunan-bangunan kokoh dari batu-batu hingga bangunan-bangunan modern ber-AC. Dari peradaban paganisme di bawah kekaisaran Romawi, hingga perkembangan kekaisaran Islam Usmani di Kota Istanbul.

Jamaah umrah dari Indonesia sudah tidak jarang yang berkunjung ke Turki. Apalagi di Pasar Besar (Grand Bazaar) yang terletak di belakang Museum Aya Sofia Sophia. Dialog dalam bahasa Indonesia, walaupun sepotong-sepotong, juga biasa diucapkan di pasar-pasar souvenir yang tersebar di berbagai kota. Bahkan menggunakan dialog bahasa Melayu juga merupakan hal lumrah. Tetapi jangan heran jika penjual kemudian jengkel bahkan marah ketika transaksi tidak terjadi.

Turki memang dikenal dengan kehidupan yang pluralistik. Beragam obyek bangunan keIslaman dapat kita lihat di beberapa tempat dan daerah. Seperti Masjid Biru (Blue Mosque), Masjid Sultan Ottoman di Istanbul, dan Museum Jalaluddin Rumi di Konya, Kanakkale, dengan latar belakang kehidupan Timur Tengah. Ditambah lagi adanya kota tua Pergamon dengan ikonnya Kuda Troya, yang hanya pernah kita baca dari karya Homerus dalam kisah Perang Troya tahun 1200 SM. Begitupun dengan kota tua peninggalan Romawi Kuno di Hierapolis (Pamukkale) yang dihiasi kolam-kolam air minteral bak kapas, dan naik balon mengitari rumah-rumah cerobong dari tanah liat di Kapadokia. Ah, sungguh mengasyikkan!

Walaupun rata-rata penduduknya menganut agama Islam, nuansa kehidupan pluralistik itu juga dapat kita saksikan dari adanya kesejarahan kekristenan. Bertempat di Efesus dengan petilasan yang konon Bunda Maria tinggal di Efesus selama tujuh tahuna��dengan penghargaan tinggi tokoh Maryam dalam Al-Qura��an. Bahkan ada Museum Terbuka Lembah Garome yang pernah menjadi permukiman dan biara pemeluk Kristen (Katolik) awal dengan sejumlah orang kudus (santo) seperti St Barbara, St Philipus.

Nah, yang juga tak kalah menarik adalah terletak di kota historis Konya. Sekitar 258 km dari Istanbul ke Ankara, terdapat Konya dengan obyek Museum Maulana di mana Maulana Jalaluddin Rumi dimakamkan. Jalaluddin Rumi adalah pemikir besar dengan salah satu karya klasiknya, Mathnawi, yang menjadi rujukan ajaran-ajaran sufi. Karya ini ditulis dalam bahasa Persia, dan sampai sekarang karya aslinya masih tersimpan rapi di sana. Moseum Maulana dan karya Maulana Jalaluddin Rumi serta makam enam muridnya itu, sangat apik dengan arsitekturnya yang khas pada 1274 selesai dibangun.

Dari saking menariknya, menurut salah seorang tour leader bernama Oemar memperkirakan kalau tiap tiga bulan, satu di antara enam orang yang dipandunya adalah dari Indonesia. Karena memang, selain Mesir, Turki menjadi alternatif wisata bagi peziarah umrah yang datang dari Indonesia.

Rujukan: Harian Kompas, edisi 20 Juli 2014