Para Orang Tua, Wajib Tau; Hajinya Anak Umur Mumayis

Banyak orang tua dari berbagai negara yang menginginkan untuk anaknya belajar haji bahkan bisa mempraktikkan secara langsung di Makkah. Mumayis adalah anak yang sudah mencapai usia sekitar 7 tahun dan dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang bermanfaat dan yang membahayakan bagi dirinya.

Pada usia ini, anak telah memiliki kemampuan untuk berfikir dan menggali informasi di dalam otaknya. Dan pada usia ini, anak sudah dianjurkan bahkan di wajibkan untuk melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Terdapat hadist yang menerangkan bahwa jika anak telah mencapai umur 7 tahun, tetapi belum melaksanakan sholat atau ibadah lainnya, mak pukullah. Begitu tegasnya Rasulullah jika berhubungan dengan ibadah. Alasan lain terkait itu adalah untuk membiasakan anak melaksanakan ibadah yang disunnahkan.

Pembiasaan ini perlu dilakukan oleh orang tua, supaya di masa mendatang, anak tidak lagi bersifat malas-malasan atau bahkan tidak mau melaksanakan ibadah sama sekali. Tidak sedikit anak yang membentak orang tuanya hanya karena masalah sepele. Ini dikarenakan pembiasaan orang tua yang memanjakan anak dan tidak memberi pelajaran. Jika dilihat dari sikap dan permasalahannya, nakal dan tidaknya anak tergantung dari lingkungan dan keluarga.

Sahabat ihram, telah dijelaskan di artikel sebelumnya terkait hukum dari hajinya anak kecil. Saat ini kita akan membahas hajinya anak yang di umur mumayiz. Anak yang berumur mumayiz, baik perempuan dan laki-laki, maka ihramnya atas izin walinya. Ketika ia akan melakukan ihram, ia harus melakukan apa yang dilakukan orang dewasa ketika ihram, seperti mandi, memakai wangi-wangian ditubuh dan semacamnya. Dan dalam hal ini, peran orang tua dibutuhkan karena orang tualah yang mengatur dan mengurusi keperluan ihram anaknya. Dan walinya lah yang harus mengerjakan amalan yang tidak bisa dilakukan anaknya, seperti melempar jumrah atau yang lainnya yang diniatkan untuk anaknya.

Hal-hal yang dilakukan oleh anak sendiri yakni wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Mina dan Musdzalifah. Jika thawaf dan saa��i tidak mampu dilakukan oleh anak, maka anak harus di panggul untuk melakukan Saa��i dan Thawaf. Dan yang paling di utamakan adalah niat dari pemanggul. Pemanggul hendaknya tidak ada dua niat (niat thawaf dan saa��i untuk dirinya dan untuk anaknya), tetapi pemanggul hanya niat untuk anak tersebut kemudian melakukan saa��i dan thawaf lagi yang niatnya untuk dirinya sendiri.

Namun, jika pemanggul anak meniatkan thawaf untuk dirinya dan untuk anak yang di panggulnya sekaligus, ini sudah sah menurut hukum. Dan ini merupakan pendapat yang lebih shahih, karena Nabi Saw. tidak memerintahkan wanita yang bertanya kepada beliau tentang haji anak yang dibawanya itu untuk menthawafkan anak itu dalam waktu tersendiri. Seandainya hal itu adalah wajib, tentu Nabi Saw. menjelaskan kepada wanita penggendong anak itu.

Kemudian, nak kecil yang sudah mencapai umurA�mumayyiz,A�baik lelaki maupun perempuan hendaknya diperintahkan untuk bersuci dari hadats juga dari najis, sebelum memulai thawaf, seperti halnya yang dilakukan oleh orang dewasa yang berihram. Sebenarnya, meniatkan ihram untuk anak kecil tidaklah wajib bagi walinya, melainkan hanya sunnah. Jika walinya melakukannya, maka ia mendapat pahala. Jika ia tidak melakukannya pun tidak mengapa.