8 Kesalahan Saat Melempar Jumrah Ini Harus Diketahui

0
95

Wajib Tahu; Inilah Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Melempar Jumrah

Sahabat ihram, melempar jumrah merupakan simbol perlawanan manusia terhadap syeitan. Melempar jumrah merupakan wajib haji, yang harus dilakukan dan tidak dapat ditinggalkan. Melempar jumrah sebaiknya tidak menggunakan barang-barang yang tidak disunnah kan Rasul, seperti sandal, sepatu, dll. Terdapat cara-cara dalam melempar jumrah dan telah di sebutkan di artikel yang lalu.

Batu yang dilemparkan berasal dari hamparan luas yang terdapat di Muzdalifah. Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

إنما جعل الطواف بالبيت وبالصفا والمروة ورمي الجمار لإقامة ذكر الله

“Sesungguhnya ditetapkan thawaf di Baitullah dan (sai) di shafa dan marwa serta melontar jumrah adalah untuk menegakkan zikrullah (zikir kepada Allah).”

Berikut adalah beberapa kesalahan yang sering dilakukan para jema’ah haji ketika melempar jumrah, diantaranya adalah:

  1. Para jemaah mengira bahwa melontar jumrah tidak sah kecuali dengan batu yang berasal dari Muzdalifah. Karena terdapat jema’ah haji yang menyulitkan dirinya untuk mencari batu di Muzdalifah sebelum berangkat ke Mina. Inilah adalah keyakinan keliru. Batu dapat diambil dimana saja; Di Muzdalifah, di Mina dan dari mana saja. Yang penting dia adalah batu kerikil.
  2. Banyak jema’ah haji yang memungut batu, dia mencucinya. Karena hati-hati, khawatir ada orang yang kencing di atasnya, atau dengan niat membersihkannya, karena dia mengira apabila batunya bersih.
  3. Jema’ah haji mengira bahwa jumrah (tempat lontaran) itu adalah setan-setan dan mereka sedang menimpuk setan. Maka akan di dapati ada di antara ribuan jema’ah haji datang dengan kasar dan kemarahan serta sangat emosional, seakan setan ada di hadapannya, kemudian dia melontar jumrah.
  4. Sebagian jema’ah haji menganggap remeh dan tidak peduli, apakah batunya jatuh ke tempat melontar atau tidak
  5. Sebagian jema’ah haji mengira bahwa batunya harus mengenai tiang yang terdapat di tempat pelontaran
  6. Memulai melempar jumroh aqobah, lalu wustho, kemudian ula pada hari tasyrik. Padahal seharusnya dimulai dari ula, wustho lalu aqobah.
  7. Jama’ah haji dan biasa ditemukan adalah jama’ah haji Indonesia, ada yang melempar jumrah di tengah malam pada hari-hari tasyrik bahkan dijamak untuk dua hari sekaligus (hari ke-11 dan hari ke-12).
  8. Melempar jumroh sekaligus dengan tujuh batu. Yang benar adalah melempar jumroh sebanyak tujuh kali, setiap kali lemparan membaca takbir “Allahu akbar”.
  9. Saling berdesak-desakkan ketika melempar jumroh. Padahal untuk saat ini melempar jumroh akan semakin mudah karena jemaah haji dapat memilih melempar dari lantai dua atau tiga sehingga tidak perlu berdesak-desakkan.

Sahabat ihram, lebih baik kesalahan-kesalahan tersebut tidak terjadi pada anda sekalian. Ketika melakukan ibadah haji, sebaiknya tidak ada perasaan sakit hati. Lakukanlah semua tahapnya dengan senang hati dan selalu mengingat Allah SWT.