Harus Baca; Inilah Hukum Mandi Junub Bersama Suami

0
418

2 Hal ini harus dipenuhi jika ingin mandi junub bersama Suami

Mandi junub dilakukan ketika suami dan istri selesai melakukan hubungan seks. Mandi junub merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri, yang berguna untuk menyucikan dirinya. Sebelum mandi junub, kita memang boleh melakukan sholat tetapi dengan alasan tertentu. Rasulullah SAW telah meriwayatkan beberapa hadist yang berkaitan dengan mandi junub bersama istri.

Ternyata inilah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dan telah di praktekkan oleh Rasulullah dengan istrinya ‘Aisyah. Ketika Rasulullah mandi junub bersama ‘Aisyah, beliau berkata kepada istrinya: “Sisakan bagianku, sisakan bagianku”. Karena ketika itu Rasulullah saling berlomba dengan istrinya ketika mengambil air.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat, ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ يَغْتَسِلَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang perempuan mandi dari sisa laki-laki atau seorang laki-laki mandi dari sisa perempuan. Namun hendaklah mereka mandi berbarengan (lewat wadah yang sama).” (HR. Abu Daud no. 81 dan An Nasai no. 239. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Dalam kitab sunan disebutkan bahwa;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى جَفْنَةٍ فَجَاءَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- لِيَتَوَضَّأَ مِنْهَا – أَوْ يَغْتَسِلَ – فَقَالَتْ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ جُنُبًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الْمَاءَ لاَ يَجْنُبُ ».

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mandi di satu wadah besar. Lalu datang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengambil air dari sisa mandi istrinya, atau beliau berkeinginan untuk mandi. Maka salah satu istrinya berkata, “Wahai Rasulullah, aku tadi junub (dan itu sisa mandiku, pen). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: Sesungguhnya air itu tidak terpengaruh oleh junub.” (HR. Abu Daud no. 68, Tirmidzi no. 65, dan Ibnu Majah no. 370. Tirmidzi menshahihkan hadits ini).

Yang perlu kita perhatikan adalah, larangan mandi dari air sisa istri yang disebutkan dalam hadist diatas adalah sebagai larangan ta’dib (bimbingan untuk melakukan yang lebih baik lagi). Jadi larangan ini bukanlah larangan yang haram. Lagipula, suami istri boleh memandang satu dengan yang lainnya, tidak ada batasan aurat antara keduanya. Terdapat hadist yang menyatakan bahwa aurat suami dan istri terletak pada kemaluannya. Namun, hadist ini lemah dan dibantah dengan hadist diatas.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika mandi junub, diantaranya adalah

  1. Tidak boleh diketahui sang anak. Jika anak mengetahui orang tuanya masuk kedalam kamar mandi secara bersamaan bahkan mandi bersamaan, maka akan menimbulkan rasa ingin tahu. Maka sebaiknya dilakukan dengan ketika anak tidur atau sedang tidak ada di rumah.
  2. Jangan mengganggu orang lain atau tetangga. Jika mandi yang dilakukan dengan keadaan ramai, maka akan mengganggu tetangga dan tidak etis jika dilakukan.

Sahabat ihram, mandi junub bersama, sebenarnya boelh dilakukan pasangan suami istri dan tidak ada dalil yang mengharamkannya. Namun, jika dirasa terdapat beberapa dampak negatifnya lebih baik dihindari.