Muslimah Wajib Tau; Inilah Syarat Dibolehkannya Berobat ke Lawan Jenis

0
163

Inilah Hukum Berobat Kepada Lawan Jenis

Sahabat ihram, sakit adalah nikmat Allah yang tidak bisa tergantikan. Ketika sakit manusia layaknya diuji dengan ujian yang sangat berat dan berbagai ujian lainnya pun mengikuti. Banyak manusia yang tidak yakin kuat jika mendapat ujian tersebut. Berobat adalah salah satu usaha yang biasa dilakukan manusia. Tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat memilih jika kita berada di rumah sakit dengan keadaan yang tidak sadarkan diri untuk memilih seorang dokter yang nantinya akan menemani kita hingga sembuh.

Fenomena saat ini yang terjadi adalah dokter spesialis kebanyakan dari kalangan laki-laki. Inilah yang menjadi salah satu permasalahan seorang pasien wanita. Terdapat dalam firman Allah terkait menjaga aurat masing-masing, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman. “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An-Nur ayat 30-31).

Pada dasarnya, hukum melihat aurat adalah haram apalagi auratnya lawan jenis yang bukan mahramnya. Larangan melihat aurat ni, bukanlah diperuntukkan kepada sesama jenis saja, melainkan kepada sesama jenis. Dijelaskan dalam sebuah hadist:

“Dari ‘Abdir-Rahman bin Abi Sa’id al-khudri, bahwasanya: Rasulullah SAW bersabda:”Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaku (yang lain), dan janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain)”.[HR. Muslim].

Hukum berobat kepada lawan jenis adalah boleh dilakukan dengan syarat tidak ada dokter wanita lagi atau terdapat dokter wanita, tetapi dokter tersebut tidak memiliki keahlian dalam menangani hal tersebut. Syarat yang selanjutnya adalah jika penyakit itu hanya bisa disembuhkan dengan dokter spesialis dan bukan penyakit yang ringan, serta dalam keadaan darurat.

Syaikh Bin Bâz rahimahullah mengatakan: “Seharusnya para dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter lelaki melayani kaum lelaki secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian pelayanan wanita masing-masing disendirikan, agar masyarakat terjauhkan dari fitnah dan ikhtilat yang bisa mencelakakan. Inilah kewajiban semua orang”.

Allah menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An’âm/6 ayat 119:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“(padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya)”.

Meskipun hukumnya dibolehkan dalam kondisi yang benar-benar darurat, tetapi harus mengikuti rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslimah terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter lelaki, ia harus didampingi mahram atau suaminya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.