Sistem Pemondokan Haji Indonesia Di Arab Saudi

Pemondokan sangat diperlukan bagi jemaah haji, karena di pemondokanlah jemaah haji melakukan istirahat setelah melakukan ibadah haji sepanjang hari. Hingga di pemndokanlah tempat yang paling tepat untuk melepaskan penat dan lelah para jemaah haji. Tim Perumahan Haji dari Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama sedang mempersiapkan akomodasi untuk jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Sebanyak 14 orang dalam tim tersebut akan bertugas di Makkah dan Madinah hingga awal Mei mendatang.

Kasi Penyiapan Akomodasi Ihsan Faisal mengatakan bahwasanya tim perumahan saat ini masih melaksanakan proses mencapai target seperti yang telah ditetapkan pemerintah dan DPR. Ia mengatakan bahwa, sistem sewa hotel di Madinah dalam penyelenggaran ibadah haji tahun ini menggunakan sistem gabungan atau kombinasi antara sewa satu musim danA�blocking time (semi musim).

Penyewaan pemondokan selama satu musim sudah dalam sistem gabungan atau kombinasi. Surat Keputusan (SK) Dirjen PHU tentang Pedoman Penyediaan Akomodasi. Kemenag sebelumnya mengatakan tim akan berusaha menargetkan 70 persen pemondokan atau hotel yang disewa oleh panitia haji tahun ini dengan menggunakan sistem satu musim. Sementara 30 persennya menggunakan sistem semi musim (blocking time). Hal itu karena tidak semua hotel bisa disewa dengan satu musim karena jumlah kamarnya tidak mencukupi dengan orang atau jemaah haji.

“Targetnya Insya Allah seperti di atas, namun sekarang masih proses menuju target tersebut. Alhamdulillah kemajuan prosesnya terus meningkat,” kata Ihsan, dalam pesan kepadaA�Republika.co.id, Rabu (14/3).

Ihsan mengatakan bahwa sistem sewa satu musim memiliki harga sewa yang sedikit lebih mahal daripada sistemA�blocking time. Di samping itu, tim perumahan juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan hotel di wilayah markaziah. Selain itu, memperebutkan hotel-hotel tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.

Selain memiliki dampak negatif atau mahalnya sistem tersebut, sistem sewa satu musim juga memiliki keuntungan tersendiri. Di antaranya, adanya kepastian penempatan jemaah haji, kenyamanan jemaah, dan meminimalisir terpecahnya kloter karena berbeda hotel.

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Sri Ilham Lubis mengatakan, tahun lalu 95 persen jemaah haji Indonesia menempati hotel di jarak paling jauh 650 meter dari Masjid Nabawi. Sementara lima persennya tinggal di hotel di jarak di atas 650 meter dan maksimal 1.150 meter dari Masjid Nabawi. Selama ini, Indonesia menyewa hotel sesuai dengan jadwal kedatangan jemaah untuk melaksanakan shalat 40 waktu (arba’in). Dengan sistem tersebut tanggal masuk dan keluar hotel telah ditentukan.

Namun, dampak dari sewa hotel semimusim itu telah menimbulkan kesulitan. Pada saat terjadinya jadwal penerbangan jemaah haji Indonesia yang tertunda atau jadwal penerbangan negara lain yang tertunda, jemaah haji Indonesia terpaksa harus ditempatkan di hotel lain. Sebab, hotel tersebut masih ditinggali jemaah sebelumnya. Sistem sewa semimusim ini telah mengakibatkan jadwal yang tidak tepat waktu, karena ketika ada penundaan waktu penerbangan, penyedia haji harus mencarikan hotel lain.