Kisah Nyata; Seperti Inilah Pengorbanan dan Perjuangan Orang Haji Dahulu

0
217

Haji jaman dulu yang penuh dengan prjuangan dan pengorbanan.

Sahabat ihram, jemaah haji Indonesia cenderung menghadapi cobaan dan derita selama perjalanan haji dengan sabar, tawakkal dan tabah. Dahulu, haji dilakukan dengan menumpang kapal laut. Banyak anggapan dari para jemaah haji untuk menerima appaun yang terjadi, dalam artian tidak mengeluh kepada perjalanan menuju ke Makkah maupun Madinah. Sikap tangguh yang dibawa oleh jemaah haji ini karena pelajaran dari penjajahan yang dilakukan oleh Belanda atau Jepang kala itu.

Ketika berada di kapal laut yang membawanya pergi haji ke Jeddah dan pulang. Dan ketika itu, nasib jemaah haji dengan kuli kontrak yang dibawa ke Deli sama saja. mereka dikasari dan dihinakan oleh orang-orang kapal atau orang-orang kolonialnya, dan orang itu tentunya berbeda dengan orang Indonesia yang dikenal dengan budak.  Terlebih karena ajaran para ulama yang mengajarkan bahwasanya ulama menyuruh untuk berlaku sabar untuk menjalani kesengsaraan selama berada di perjalanan yang menuju ke Jeddah. Dan banyak jemaah menganggap sabar dari kesengsaraan itu termasuk ibadah.

Doktrin akan kesabaran dengan kepasrahan yang di ajarkan oleh para ulama kepada jemaah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena terdapat jemaah haji yang tidak ikhlas menerima penderitaan itu. Dan hal yang lain adalah adanya anggapan bahwasanya jika nanti memberontak, maka jemaah tersebut termasuk dalam salah satu tanda haji yang tidak mabrur. Dan telah menjadi sebuah kesepakatan sekaligus kepercayaan umum untuk tidak boleh mengeluh selama melaksanakan ibadah haji. Umumnya, jemaah haji percaya bahwasanya orang yang mengeluh ketika melaksanakan ibadah haji, maka dia akan memperoleh teguran langsung dari Allah SWT.

Dengan adanya doktrin kepasrahan dan tabah dalam melaksanakan ibadah haji ini justru dimanfaatkan oleh beberapa pihak, salah satunya pihak penyelenggara haji, karena tidak selalu memperbaiki pelayanan dan akomodasi yang termasuk dalam hak dari jemaah haji. Para jemaah justru dipesani oleh biro travel perjalanan haji tersebut untuk tidak boleh mengelu, tidak boleh protes karena dapat menyebabkan hajinya mardud atau tidak sah. Ada juga jemaah haji yang berasumsi bahwasanya ketika menceritakan perjalanan menuju ke Tanah Suci atau ketika melaksanakan ibadah haji yang jelek-jelek, maka dapat menjadikan dosa bagi dirinya.

Maka kebanyak jemaah haji kala itu, hanya bisa mengucapkan rasa syukur ketika akan melaksanakan haji dan yang pasti, tidak dalam keadaan yang penuh protes atau suka mengeluh. Kebanyakan yang berangkat haji kala itu adalah orang-orang yang memiliki kedudukan atau terpandang di kalangan masyarakat, seperti kyai atau ulama di suatu daerah. Bagi jemaah haji yang reguler, ibadah haji identik dengan perjuangan. Tetapi justru disitulah letak dari berbagai macam pelajaran yang terkandung dalam hikmah haji.

Nah, ketika itu, rombongan jemaah haji asal Indonesia kesasar, tetapi anehnya rombongan tersebut tidak menggunjing atau membicarakan orang lain. mereka malah sibuk istighfar dan mencari jalan keluar. Hal inilah yang paling berbeda dengan orang zaman sekarang yang dengan cepat bisa membicarakan saudaranya sendiri.

LEAVE A REPLY