Kisah Nyata Jamaah Haji Indonesia; Berbau Ketika Di Tanah Suci Makkah

0
193

Kenak penyakit karena punya perasaan yang tidak baik pada sesama jamaah haji.

Dikisahkan dari seorang kakek yang berusia 71 tahun bernama Didi, ia adalah jemaah haji asal Indonesia. Ketika itu, beliau hendak shalat di Masjidil Haram, Didi melihat seorang pria yang sedang shalat. Kaki si pria, kata Didi, seperti menderita luka korengan sebesar telapak tangan. Didi membatin dan membayangkan luka itu akan menempel ke lantai Masjidil Haram saat ia shalat. Ia bergidik membayangkan lantai akan menjadi kotor.

“Hanya dalam hitungan detik, paha saya tiba-tiba terasa gatal dan panas luar biasa. Semakin saya garuk, semakin gatal dan akhirnya membengkak sebesar telapak tangan,” katanya.

Di tengah rasa gatal yang luar biasa itu, Didi tiba-tiba tertegun. Ia mengingat kembali pikirannya saat melihat pria dengan luka koreng tadi.

“Saya pun berdoa, ya Allah … saya datang ke sini untuk beribadah kepada-Mu. Jika saya melakukan kesalahan, ampuni saya,” katanya.

Didi mengaku berdoa berulang-ulang denga khusuk, sehingga ia pun larut dan lupa pada rasa gatalnya. Barulah tiba-tiba Didi menyadari, bengkak dan gatal itu nyaris hilang dan akhirnya hilang sama sekali. Kisah

Didi tak berhenti di situ. Ia pun menuturkan jamaah calon haji dari negara lain  yang biasanya datang dengan bus. Tak seperti calon jamaah Indonesia (calhaj) yang ibadah hajinya diurus pemerintah dan mendapatkan pemondokan atau hotel, calhaj dari negara tertentu biasanya mengandalkan tenda untuk tinggal di bukit atau tanah berkontur tinggi sekitar Makkah. Tak heran jika untuk keperluan air bersih mereka harus turun-naik ke kota dari tempat kemah mereka. Akibatnya, mereka jarang mandi dan membersihkan tubuh.

“Saya membayangkan mereka berbau tubuh kurang sedap. Maka, ketika ada salah satu dari mereka shalat di shaf saya di Masjidil Haram, saya sengaja mengambil tempat agak jauh dari dia,” kata Didi.

Entah mengapa, setiap datang jamaah baru selalu mengambil tempat di sisi Didi dan membuat Didi harus bergeser. Hal itu terjadi berulang-ulang, sehingga akhirnya Didi terkejut karena ia ternyata sudah bergeser semakin mendekati pria Pakistan tadi. Didi kembali serasa ditegur Allah. Rasa bersalah pun menggunung dan ia mengikuti dorongan hatinya.

“Saya spontan mendatangi dia, menjabat tangannya sambil mengucapkan salam. Saya tanya, where do you come from? Dia membalas salam saya sambil menangguk-angguk kepala. Ternyata, ia berasal dari Pakistan. Namun, kami tak banyak bicara karena mendekati waktu shalat,” katanya.

Pada hari berikutnya, yang membuat Didi terkejut. Tanpa bicara apa pun, pria Pakistan tadi tiba-tiba sibuk mencari sesuatu di sabuknya. Kemudian, ia mengacungkan sebotol parfum kecil dan sibuk menyemprotkannya ke pakaian Didi.

“Saya hanya tertegun lalu mengucapkan thank you,” katanya sambil tak habis pikir dengan  kejadian itu. “Saya dan dia tidak bicara apa pun tentang bau-bauan.”

Soal “tuduhan” akan aroma tubuh pria tadi, Didi mengaku, “Tidak … tidak ada bau.” Bagi Didi, dua kejadian itu sudah membuatnya belajar. Menurutnya, Allah demikian sayang sehingga menegurnya.

“Jangan berprasangka buruk. Perbanyak beristighfar jika kita melakukan kekeliruan,” pesannya sambil terdiam. Kenangan Masjidil Haram itu masih terbayang dibenaknya meski telah 15 tahun berlalu. Subhanallah.

LEAVE A REPLY