Kisah haji Nabi Ibrahim ini berbeda dengan kisah haji Nabi lainnya.

Haji menjadi salah satu ibadah yang agung dan diinginkan dari dahulu, tanpa terkecuali keluarga dari Nabi Ibrahim as. Ibu hajar adalah sosok istri dan dan ibu yang darinyalah semua bersumber mulai dari keimanan, ketaatan hingga keluarga.

Ibu Hajar adalah seorang ibu. Dari rahimnyalah ditakdirkan lahir Ismail. Di tanah berbatu yang menyengat, bayi Ismail membukakan mata air yg hingga kini tak berhenti alirannya, yakni air zamzam. Dari kasih ibunya, di tanah yang gersang dan panas itu Ismail dibalut dengan cinta tanpa batas, dididik jadi manusia luar biasa di usia belia. Di tanah ini Ismail tumbuh jadi manusia yang dikenang sepanjang masa.

Ibu Hajar adalah juga seorang istri. Perempuan mulia inilah yg mengantarkan suaminya, Ibrahim berumur lebih dari 100 tahun, meraih mimpinya, yakni memiliki anak. Dari istrinya inilah seorang suami, Ibrahim, diantarkan untuk lebih dekat pada Sang Maha Pencipta; tanpa Hajar tiada Ismail, tanpa Ismail, Ibrahim tak merasakan kecintaan tunggalnya hanya pada Allah.

Dari istrinya, Bapak Tauhid ini seakan diantarkan untuk menemukan puncak ketauhidannya. Dan kita merayakan momen-momen kecintaan tunggalA�Nabi Ibrahim pada Robbnya itu saat merayakan hari raya Idul Adha. Hadirnya Ibu Hajar sebagai seorang ibu dan seorang istri, menghantarkan kisah Nabi Ibrahim menjadi hikmah yang alirannya maknanya tidak pernah berhenti, seperti lubang zamzam mengalirkan airnya tanpa henti.

Kebahagiaan dan rasa syukur itu mengembung, saat ditakdirkan-Nya di beberapa hari ini menelusuri kembali perjalanan Nabi Ibrahim, Ibu Hajar & Nabi Ismail bersama seseorang yg darinya kita dilahirkan: ibu. Dan bersama seseorang yg darinya anak-anak amanah Allah dilahirkan olehnya: istri. Pengalaman haji adalah meniti dengan hati setiap peristiwa penuh makna seputar keluarga Ibrahim. Pengalaman haji itu jadi terasa makin bermakna ketika dialami bersama dengan Ibu dan istri.

Sore itu, tanggal 12 bulan 12 tahun 1438 Hijriah, tawaf Ifadha dimulai. Baitullah ada di tengah. Kami berjalan di orbitnya, menyatu dengan semua, seakan butiran air di samudra raya; saat kami tuntas 7 putaran, saat selesai tawaf, saat itu pula Adzan Maghrib berkumandang. Persis bersamaan. Semua berhenti di orbitnya, ratusan ribu jumlahnya, semua berubah arah menghadap kiri, berdiri mengarah Ka’bah dan sholatpun ditegakkan. Sungguh, tiada batas atas hikmah yang bisa ditimba dari tiap pengalaman penuh makna ritual haji. Itu sekelumit, refleksi kecil atas pengalaman haji ini.

Malam itu saat matahari sudah turun tapi gelap belum melangit, kami bertiga berdiri Al Haram. Mengabadikan momen bertiga ini, untuk anak-anak kami dan -InsyaAllah- untuk anak-anak dari anak-anak kami; pada mereka pengalaman lengkap kelak akan dituturkan, semoga bisa jadi hikmah bagi mereka, dan bagi kami. Semoga kami dan mereka bisa mengalami, bukan hanya menjalani, ibadah haji.