Upaya Kemenkes Bagi Calon Haji Yang Tidak Lolos Istitaah.

Banyaknya jemaah haji asal Indonesia yang tidak lolos seleksi kesehatan pada tahap kedua yang mengakibatkan banyaknya jemaah haji mundur untuk menunda keberangkatan haji. Dari adanya tersebut, mengakibatkan Pemerintah Indonesia menerapkan Permenkes Nomor 15 Tahun 2016 tentang istitha’ah (mampu) yang mewajibkan calon jemaah dinyatakan mampu melaksanakan seluruh ritual haji. Pemeriksaan kesehatan calon jemaah hampir rampung pekan ini.

Kementerian Kesehatan mengupayakan calon jemaah haji yang tidak lolos istitha’ah bisa digantikan ahli waris. Hingga saat ini, sekitar 230 orang dari 204 ribu calon jemaah dinyatakan tidak mampu menjalani ritual haji di Tanah Suci. Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Eka Jusuf Singka mengatakan biasanya mereka yang tidak lolos digantikan oleh nomor porsi urutan selanjutnya.

“Tapi kami sudah minta untuk diganti oleh ahli warisnya, jika ahli warisnya memang daftar haji,”.

Hal ini merujuk pada kebijakan Kementerian Agama sebelumnya terkait pengganti calon jemaah yang telah meninggal, yaitu calon haji yang telah meninggal digantikan oleh ahli warisnya.

“Tapi saat ini belum ada kepastian (terkait pengganti calon haji tak lolos istitha’ah),” kata dia.

Jika mereka dinyatakan tidak mampu, maka kewajiban hajinya gugur. Eka menilai hal ini perlu sosialisasi menyeluruh agar calon jemaah tidak memaksakan diri. Pemeriksaan kesehatan haji diperkirakan selesai pekan ini. Total 99 persen telah melakukan uji istitha’ah. Sekitar 64 persen calon haji termasuk golongan risiko tinggi (risti). Calon jemaah haji yang menderita penyakit yang sudah tergolong akut sehingga tidak bisa melaksanakan ritual haji. Ia menegaskan mereka bukan hanya golongan risiko tinggi, melainkan pengidap penyakit berat.

“Risti itu bukan tidak boleh berangkat, masih bisa tapi tetap dikawal,” katanya.

Mereka yang tidak istitha’ah adalah golongan yang benar-benar tidak disarankan untuk berangkat. “Contohnya penderita gagal ginjal stadium lima, perlu cuci darah, gagal jantung stadium empat, tidak bisa jalan, kanker stadium lanjut, dan lainnya,” kata dia.

Ketidakmampuan pelaksanaan haji hanya akan menyulitkan jemaah di Tanah Suci. Pada akhirnya, mereka pun biasanya hanya bisa terbaring di Saudi dan lebih banyak merepotkan orang atau rombongannya ketika di Arab Saudi terlebih ketika di dalam kamar. Maksud ke Arab Saudi adalah untuk melakukan ibadah haji tanpa adanya halangan dari siapapun. Dan waktu beristirahat haruslah dilakukan dengan senyaman mungkin, karena melakukan haji akan membutuhkan fisik dan tenaga yang kuat.

Haji dilakukan dengan fisik dan mental yang kuat karena di Arab Saudi cuaca, iklim dan keadaan sekitar jauh berbeda dengan di Indonesia. Lingkungan sosial yang diberikan atau di tampakkan di Arab Saudi juga berbeda dengan di Indonesia. Maka dari itu, jika pemerintah tidak mengizinkan jemaah haji untuk melakukan haji, janganlah memaksakan kehendak. Karena ditakutkan malah menimbulkan berbagai permasalahan ketika di Arab Saudi.