Pengalaman haji yang tidak biasa tapi perlu diketahui dan diwaspadai.

Ibadah haji wajib jika seseorang telah dikatakan mampu dalam hal finansial dan fisiknya. Selain itu, jemaah haji juga diharapkan tidak terpengaruh dengan keadaan sosial di Arab Saudi. Ini adalah pengalaman seorang calhaj asal Ciamis, Jawa Barat yang berangkat bersama istrinya. Secara tidak diduga calhaj ini mengalami gangguan jiwa ketika memasuki kota Makkah. Padahal, ketika tiba di Jeddah dan bersiap-siap ke Makkah tidak terjadi hal yang istimewa, kecuali hanya mengeluh sedikit pusing saja. Sang istri menyangka suaminya masih mabuk udara. Maklum saja, jarak Jakarta-Jeddah ditempuh nonstop 10 jam lebih.

Keadaan berubah ketika di mobil rombongan jemaah haji mendekati kota Makkah, sang suami mulai menunjukkan tanda-tanda aneh. Bicaranya mulai meracau dan tingkah lakunya membuat sebagian jemaah kesal. Bila yang lain mengumandangkan takbir dan tahlil, jemaah ini menyanyi-nyanyi, bahkan tertawa-tawa. Tentu saja, semua perilakunya menyedihkan hati sang istri dan membuat sang istri merasa tidak enak hati dengan jemaah haji yang lain.

Kesedihan sang istri bertambah ketika rombongan tiba di pemondokan Makkah. Sang suami tidak bisa diatur lagi karena selalu berlari-lari dan mengganggu jemaah lainnya. Akhirnya, atas nasehat dokter kloter sang istri membawanya ke Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah. Di sini, dokter sepakat untuk merawat inap sang jemaah hingga sembuh.

Pengalaman haji seperti itu tidak hanya terjadi pada satu-dua orang calhaj. Juga hampir tiap tahun selalu berulang. Gangguan jiwa yang diderita semacam itu disebut neurosis. Penderita mengalami perasaan curiga, merasa dikejar-kejar, halunisasi penglihatan maupun pendengaran. Biasanya, gangguan seperti ini bisa berlangsung lama, bahkan selama musim haji berlangsung bisa saja calhaj mengalaminya. Kalau sudah mengalami keadaan yang seperti itu, apa artinya pergi ke tanah suci? Menurut para ahli, gangguan jiwa umumnya terpicu oleh beberapa faktor, organo-biologik, psiko-edukatif, dan sosio-kultural.

Orang yang telah berusia lanjut, misalnya relatif mudah terkena gangguan jiwa dibanding yang lebih muda. Kelelahan dalam perjalanan dan disorientasi terhadap lingkungan yang sama sekali baru termasuk penyebab terjadinya gangguan jiwa. Kendati demikian, sebenarnya faktor internal dari calhaj menjadi penentu utama dari terjadinya gangguan jiwa.

Hal ini dikarenakan adanya pribadi-pribadi tertentu yang memang mudah terkena gangguan jiwa. Di antaranya pribadi yang kaku dan pribadi yang tidak berani menanggung risiko serta terlalu hati-hati. Juga, pribadi yang terlalu ingin sempurna atau perfeksionis, menjadi sebab mudahnya terkena gangguan jiwa. Karenanya, sejak awal ditekankan perlunya kesabaran ekstra serta sikap tawakkal dalam beribadah.

Selain itu semua, beberapa dokter dari TKHI (Tim Kesehatan Haji Indonesia) pernah menyebut sebenarnya tidak sedikit calhaj yang mendapat gangguan jiwa di tanah suci memiliki riwayat penyakit sejenis di tanah air. Hanya saja, sebelum berangkat mereka telah mengalami kesembuhan yang kadang berjarak lama (bisa mencapai 20 tahun). Sayangnya, keluarganya berharap dengan keberangkatan ke tanah suci, kesembuhan itu menjadi sempurna atau sembuh total. Kenyataannya, justru berangkat ke tanah suci menjadikan penyakit itu kambuh kembali.

Karena hal tersebut, jemaah haji juga disarankan untuk menimbang-nimbang perlu tidaknya mereka yang pernah mengalami gangguan jiwa berangkat haji. Ini mengingat kondisi fisik dan sosio-kultural Arab Saudi yang demikian berat, sehingga bisa memicu kembali munculnya penyakit yang dianggap telah sembuh tadi. Dengan demikian, kesiapan fisik dan psikis calhaj menjadi penting untuk menghindari terjadinya gangguan jiwa selama di tanah suci. Meningkatkan kesabaran dan tawakal serta memperbanyak zikir dan doa bisa jadi pencegah bagi gangguan tersebut.