Pengalaman Umrah; Karena Bawa Pembantu Ke Tanah Suci

0
190

Pengalaman jamaah umroh saat membawa pembantunya ke tanah suci Makkah.

Menolong atau mengajak orang umrah adalah perbuatan yang mulia. Saat ini, banyak orang yang mengajak orang terkasihnya untuk melakukan ibadah umrah. Mengajak pembantu atau asisten rumah tangga yangs setiap harinya membantu kita dalam menyiapkan kebutuhan hidup kita ketika berada di Indonesia atau ketika kita berada di manapun. Hampir kebanyakan orang tidak bisa melakukan atau tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain, salah satunya di bantu dengan jasa pembantu atau asisten rumah tangga.

Bila kita lihat, kejadian itu tampak seperti sangat mulia, tapi apa niat dari majikan murni untuk mengumrohkan pembantunya, apakah tidak ada niatan yang lain?. Kisah ini berasal dari salah satu keluarga yang melakukan umrah bersama pembantunya dengan harapan pembantunya bisa memenuhi kebutuhannya ketika di Arab Saudi. Ketika akan berangkat ke Arab Saudi, awalnya baik-baik saja dan berjalan lancar. Namun, keadaan berbalik ketika semua sudah sampai di bandara Arab Saudi, tepatnya di Jeddah. Pembantu itu terkena sakit dan tidak bisa menjalankan ibadah apapun. Sehingga majikanlah yang harus merawatnya. Mulai dari melempar jumrah juga harus diwakili, sehingga majikanlah yang harus membayar dam atau denda.

Ternyata niat dari dirinya mengumrohkan pembantunya dengan niatan agar pembantunya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya ketika di Arab Saudi. Inilah niat yang sala, niat yang harusnya benar-benar murni dan akan mendapatkan pahala, justru diniatkan dengan niat yang salah. Pembantu hanya bisa bersabar dan menerima keadaan yang menimpa dirinya. Pembantu itu juga telah di bawa ke rumah sakit, tetapi tetap saja, belum bisa sembuh dari sakitnya. Entah, dia menderita sakit apa.

Keadaan ketika berada di depan ka’bah, beliau meminta pertolongan agar dirinya bisa menjalankan ibadah umrah atau bisa melakukan sedikit demi sedikit gerakan atau berjalan. Ketika berada di ka’bah, pembantu itu berada dalam kursi roda yang di dorong oleh majikannya. Perasaan yang timbul adalah perasaan yang tidak enak, sehingga beliau memaksakan diri untuk berusaha agar bisa melakukan aktivitasnya. Namun, tuhan berkehendak lain. dia tetap tidak bisa menjalankan aktivitasnya seperti biasanya.

Sahabat ihram, Allah maha adil, Allah Maha Mengetahui. Kapan hambanya bisa digunakan dalam artian bisa melakukan ibadah dengan tenang dan kapan hambanya bisa beristirahat. Jika niatnya majikan itu salah, maka sudah menjadi hal yang lumrah jika Allah mengabulkan perasaannya. Karena sebenarnya ketika kita umrah, kita harus bisa memenuhi kebutuhn kita sendiri, tanpa adanya bantuan orang lain. jika tetap mengharapkan pembantu untuk menyiapkan kebutuhan kita ketika di Arab Saudi, mungkin Allah SWT tidak terima dengan hal itu, karena beribadah umrah juga merupakan hak bagi orang yang sudah niat atau sudah pergi ke Arab Saudi.

LEAVE A REPLY