Ternyata Puasa Ramadhan di Perancis Mencapai 17 Jam Lamanya

0
85

Puasa ramadhan di Perancis jauh lebih lama ketimbang Indonesia.

Tidak pernah terbayangan jika menjalani ibadah puasa di negeri orang. Selain budaya yang berbeda, fakto cuaca juga menjadi salah satu hal yang harus diketahui umat muslim untuk mempersiapkan dirinya sebelum menjalani ibadah puasa di negeri lain. Di Indonesia hanya menjalani waktu 8-9 jam puasa, hal tersebut tidak dapat dialami di kota prancis. Prancis menjalani ibadah puasa selama 17 jam dalam satu hari. Kita tahu bahwasanya di Prancis Agama Islam adalah agama minoritas, sehingga, suara adzan, beduk sahur atau apapun yang berkaitan dengan Islam tidak bisa kita temui dengan gampng. Masjid yang ada di Prancis juga tidak banyak di temukan seperti di Indonesia.

Ketika mau masak, umat muslim harus mencari toko kelontong yang di dalamnya banyak menjual bahan makanan atau makanan halal. Dan untungnya di Prancis ada toko orang cina yang menjual segala apa yang di cari umat muslim maupun orang lain. Hidangan wajib ketika di Prancis sama seperti di dunia lainnya, yakni makan buah kurma dan di nikmati dengan mentega dan susu fermentasi. Selain itu mereka juga menghidangkan buah zaitun yang diasinkan, sop kental ala maroko yang disantap dengan roti, sejenis risoles yang berisi daging, dan berbagai kudapan manis sebagai pembuka. Untuk hidangan utamanya tidak jauh-jauh dari daging.

Logo halal menjadi hal yang sangat penting bagi warga imigran maghribi dan afrika yang beragama islam. Beberapa umat muslim yang berasal dari maghribi bahkan menolak untuk makan di restoran-restoran Prancis atau sekedar kedai sandwich karena mereka anggap menggunakan daging yang tidak halal.

Siapa yang bisa menjamin halal atau tidaknya daging atau makanan lain bila lembaga yang melakukan sertifikasi ini di Paris atau Prancis umumnya, bukan lembaga yang resmi seperti di Indonesia, melainkan lembaga atau institut religius yang kebanyakan tidak kita ketahui status dan keberadaannya. Oleh karena itu kebanyakan umat muslim di Prancis tidak terlalu terobsesi hingga menolak makan dan minum di restoran Prancis atau membeli daging di supermarket bila tidak sempat ke bouchérie (halal tentunya!).

Tidak berbeda dengan orang Prancis, bangsa Maghribi pun menyukai berbagai masakan dengan daging seperti couscous, tajine, sosis bakar, kebab, dan sate. Menurut cerita mereka para pria Arab sangat suka makan. Pada saat buka puasa sudah mesti terhidang berbagai hidangan pembuka sekaligus hidangan utamanya.

Rasa lapar justru membuat mereka semakin menyeramkan untuk dilihat sehingga para wanita menyuruh suami mereka untuk berbelanja kudapan menjelang berbuka puasa untuk meredakan rasa lapar dan amarah tersebut. Saya pikir tidak hanya para pria arab yang menyeramkan untuk dilihat ketika lapar. Maka, lebih baik memasak sendiri makanan berbuka dari pada membeli makanan di restoran yang ada di Prancis karena belum mengetahui apakah halal atau tidak.