Kesalahan haji ini sering dilakukan oleh jamaah karena tidak memahami hal ini.

Sahabat ihram, ada 21 kesalahan pada saat pelaksanaaan ibadah haji yang mngkin sering kali dilakukan oleh para jamaah, di antaranya yakni;

  1. Sebagian orang yang berhaji menggunakan pesawat, sering kali mengabaikan miqat. Akibatnya terjadi kesalahan karena diantara mereka ada yang menunda ikhram sampai mereka tiba diA� bandara. Padahal, mereka harus berikhram ketika kendaraan yang digunakan melintasi miqat atau sebelum miqat. Jika mereka berikhram di bandara, maka dikenakan fidyah dengan menyembelih hewan di Mekkah dan membagikan kepada seluruh fakir miskin.
  2. Sebagian wanita meyakini jika pakaian ikhram harus berwarna tertentu, misalnya saja warna hijau. Padahal hal itu tidak benar, jamaah perempuan dapat berikhram dengan pakaian yang dapat dia pakai.
  3. Ada yang beranggapan bahwa perempuan yang akan melaksanakan ibadah haji ataupun umrah harus dalam keadaan suci dari haid ketika melewati miqat. Sehingga ketika perempuan itu dalam keadaan haid dan melewati miqat, ia tidak perlu melaksanakan ihram. Anggapan tersebut salah, karena haid tidak akan menghalanginya untuk melaksanakan ihram. Seorang wanita yang haid boleh melaksanakan ihram danA� dan menunaikan kewajiban-kewajiban dalam pelaksanaan ibadah umrah,A� kecuali tawaf di Kaa��bah. Karena untuk tawaf diisyaratkan suci dan wanita yang sedang haid bisa menunda pelaksanaan tawaf sampai ia suci.
  4. Sebagian orang-orang yang melaksanakan haji maupun umrah menganggap bahwa pakaian yang dipakai dalam ihram tidak boleh diganti ketika kotor. Yang benar adalah pakaian ihram boleh diganti.
  5. Sebagian orang yang berumrah beranggapan bahwa mereka harus berdoa dengan doa khusus ketika tawaf. Doa yang mereka dapatkan dariA� kitab-kitab manasik. Bahkan, ada diantara jemaah yang mengucapkan doa secara kolektif dan dipimpin oleh salah seorang dari mereka. Hal ini salah, jika ditinjau dari dua aspek yakni yang pertama, tidak ada ketentuan hukum keharusan membaca doa-doa khusus dalam pelaksanaan tawaf. Kedua, membaca doa secara bersama-samaA� adalah bida��ah dan mengganggu ketenangan jemaah lainnya yang sedang tawaf. Yang benar adalah setiap orang berdoa sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suaranya dan boleh berdoa dengan bahasa masing-masing.
  6. Kesalahan lainnya, para jemaah laki-laki membuka pundak kanannya (al-idhthibaa��) ketika berihram. Hal ini tidak disyariatkanA� kecuali pada saat melakukan tawaf qudum atau tawaf umrah. Dalam kondisi apapun, pundak kanan jemaah laki-lakiharus ditutup dengan selendang (ihram).
  7. Sebagian jemaah umrah mencium Rukun Yamani. Hal ini tidak benar. Karena rukun yamani, hanya disentuh, tidak dicium. Hajar Aswad yang dicium atau disentuh, jika dalam keadaan yang memungkinkan. Dan jika dalam keadaan yang tidak memungkinkan, semisal berdesak-desakkan, cukup memberikan isyarat saja dengan melambaikan tangan.
  8. Sebagian jemaah umroh mengusap-usap dinding Kaa��bah. terkadang malah mengusap pakaian, sorban, baju, dan sebagainya didinding Kaa��bah untuk mencari berkah. Hal ini tidak dijumpai dalam sunnah Nabi. Rasulullah SAW hanya mengajarkan untuk mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja.
  9. Saling berdesak-desakan untuk mencium hajar aswad. hal ini tentu saja tidak dibenarkan. Bahkan, antar jemaah terkadang saling mendorong, menghimpit, memukul, dan berbagai tindakan buruk lainya yangA� dapat menyakiti sesama jemaah umroh. Mencium hajar aswad adalah sunah, hanya berlaku ketika situasinya memungkinkan/longgar. Jika berdesakan, cukuplah memberikan isyarat ke arah Hajar Aswad.
  10. Berikutnya adalah sebagian jemaah umrah meyakini bahwa shalat dua rakaat tawaf harus didekat MakamA� Ibrahim. Hal ini yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan yang desak-desakan diwilayah tersebut, selain itu dapat mengganggu jalannya orang-orang yang sedang tawaf. Padahal shalat dua rakaat tawaf itu bisa dilakukan dimana saja ketika berda di dalam Masjidil Haram.
  11. Kesalahan fatal kaum wanita adalah mereka sering kali berdesakan dengan kaum laki-laki disekitar Hajar Aswad, sehingga tubuh mereka saling bersentuhan. Dari sini bisa saja terjadi fitnah dan keburukan, sehingga membuat orang lain berdosa. Dalam keadaan yang seperti ini, meninggalkan desak-desakan disekitar hajar aswad malah wajib hukumnya. Menghindari keburukan lebih diutamakan dari pada mengambil kemaslahatan.
  12. Melafalkan niat dengan keras ketika memulai tawaf dan saa��i,
  13. Sebagian orang yang bertawaf tidak memungkinkan untuk menyentuh rukun yamani, mereka memberi isyarat dan bertakbir. Mereka cenderung menyamakannya dengan hajar aswad. Yang benar adalah, rukun yamani itu cukup disentuh jika memungkinkan. Jika tidak mungkin, tidak perlu memberi isyarat dan bertakbir.
  14. Kesalahan yang berhubungan dengan pelaksanaan tawaf dan saa��i adalah sebagian jemaah melanjutkan tawaf dan saa��i agar putarannya sempurna, sekalipun shalat sudah hampir dimulai. Terkadang, mereka ketinggalan satu rakaat shalat karena kondisi yang berdesak-desakan. Seharusnya, mereka mendahulukan sholat berjamaah, baru kemudian menyempurnakan putaran tawaf atau saa��inya dari tempat dimana mereka berhenti.
  15. Sebaguan jamaah sering kali meningkalakn Arafah sebelum matahari terbenam. Perilaku yang seperti demikian diharamkan, kerena ber entangan dengan sunah Nabi Muhammad SAW. Nabi tetap berada di Arafah sampai matahari benar-benar terbenam. Perlu diingat, meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam merupakan kebiasaan yang dilakukan orang-orang jahiliah.
  16. Kebiasaan jamaah yang berdesak-desakan untuk naik ke atas bukit Arafah pada waktu wukuf dan shalat diatasnya. Padahal, diseluruh area Arafah dapat menjadi tempat wukuf dan shalat.
  17. Kesalahan yang sering terjadi dan biasa dilakukan oleh jamaah haji di Muzdhalifah, yaitu menyibukkan diri mencari kerikil untuk melempar jumrah sehiingga mereka lupaA� untuk menyegerakan shalat magrib dan isyaa��. Padahal tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa kerikil harus diperoleh di Muzdhalifah, tapi kerikil boleh dicar di Mina. Selain itu batu-batu yang akan digunakan untuk melontar jumroh tidak perlu dicuci dengan air.
  18. Kesalalahan lain, yang sering terjadi. Sebagian jemaah haji melontar jumroh dengan kuat dan keras, bahkan tak jarang sambil berteriak, mencaci maki dan mengumpat setan. mereka menyangka bahwaA� mereka benar-benar melempari setan.
  19. Para jamaah haji juga kerap melontar jumroh menggunakan batu besar, sepatu, atau kayu. Hal tersebut merupakan kesalahan yang fatal. Yang benar adalah melontar jumroh dengan menggunakan kerikil-kerikil sebesar kotoran kambing.
  20. Saat melontar jumroh hendaknya dilakukan dengan sikap tenang dan hati, masihA� ada yang saling berdesakan, dorong, bahkan pukul-memukul. Sekarang tidak ada alasan untuk melakukan hal yang seperti itu, karena area jumrah sudah diperbesar.
  21. Saat berziarah ke Makam Rasulullah di Masjid Nabawi, banyak jemaah yang mengusap-usaokan tangan, kain, dan sejenisnya kebesi-besi atau dinding makam Rasulullah SAW untuk mendapat keberkahan. Seharusnya keyakinan taufik tetap dijaga, yakni keberkahan hanya datang dari Allah SWT.