Berhaji Itu Mudah, Mejaga Mabrurnya Yang Penuh Tantangan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, a�?Siapa yang berhaji ke Kaa��bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunyaa�? (HR Bukhari 1819)

Sahabat ihram, inilah harapan dari setiap jamaah yang usai berhaji, yakni kembali ke fitrah atau mencapai mabrur ibadah. suatu yang pasti diinginkan oleh setiap orang mengerjakan ibadah haji. Namun apakah yang dimaksud dengan haji mabrur secara nyatanya?

Dalam Tahrir Alfazh at Tanbih hal 152 karya an Nawawi disebutkan, a�?Menurut penjelasan Syamr dan lainnyaA�mabrur adalah yang tidak tercampuri maksiat. Mabrur diambil dari kata-kataA�birrA�yang maknanya adalah ketaatan. Sedangkan al Azhari berpendapat bahwa makna mabrur adalahA�amal yang diterima (mutaqobbal), diambil dari kata-kataA�birrA�yang bermakna semua bentuk kebaikana��. Semua amal shalih bisa disebutA�birra�?.

Dalam Syarh Muslim 5/16, an Nawawi berkata, a�?Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal mabrur adalahA�yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kataA�birrA�yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat.

Maka dapat di simpulkan bahwa pengertian haji mabrur adalah kemampuan diri seorang individu untuk istiqomah dalam kebaikan usai menyucikan diri di tanah suci. Bagaimana memperoleh istiqomah dalam kemamrurannya? tentulah denga beberapa cara :

  1. haji yang tidak tercampuri unsur riyaa�� atau sombong berlebihan setelah kepulangannya.
  2. Haji yang jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat.

Pendapat yang dipilih oleh an Nawawi di atas dikomentari oleh Ali al Qori, a�?Inilah pendapat yang paling mendekati kebenaran dan paling selaras dengan kaedah-kaedah fiqh. Namun meski demikian pendapat ini mengandung ketidakjelasan karena tidak ada satupun yang berani memastikan bahwa dirinya terbebas dari dosaa�? (al Dzakhirah al Katsirah hal 27, terbitan Maktab Islami dan Dar al a�?Ammar).

Al Qurthubi mengatakan, a�?Para pakar fiqh menegaskan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori dengan kemaksiatan pada saat melaksanakan rangkaian manasiknya. Sedangkan al Faraa�� berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi hobi bermaksiat. Dua pendapat ini disebutkan oleh Ibnul a�?Arabi. Menurut hemat kami, haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang hajia�? (Tafsir al Qurthubi 2/408).

  1. Tidak gila dunia, atau membiasakan hidup selayaknya di makkah yang sederhana dan suci di iibaratkan sehelai kain ihram di badan .

Al Hasan al Bashri berkata, a�?Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherata�?

  1. Istiqomah dalam kebaikan

Dari Jabir, RasulullahA�shallallahu a�?alaihi wa sallamA�pernah ditanya tentang haji yang mabrur, jawaban beliau, a�?Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baika�? (HR Hakim no 1778, Hakim berkata, a�?Ini adalah hadits yang sanadnya shahiha�? dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib no 1094).

Semoga Alloh jadikan para jamaah haji kita sebagai orang-orang yang berhasil menggapai predikat haji mabrur. Untuk itu dibutuhkan kesabaran ekstra saat melaksanakan rangkaian manasik dan kesungguhan untuk memperbaiki diri sepulang pergi haji. Amin