Berangkat haji dengan uang receh yang ditabung beberapa waktu lamanya, subahanallah.

Sahabat ihram, haji adalah rukun Islam yang kelima dan menjalankannya merupakan hal terindah yang tidak pernah terbayangkan oleh orang yang kurang mampu dan tergolong dalam golongan penerima zakat. Namun, siapa yang tahu, jika sudah kehendak Allah, maka siapapun bisa menjalankannya. Namun, sebaliknya jika dia mampu, tetapi tanpa tidak di kehendaki Allah, maka tidak akan sampai ke Makkah. Allah Maha tahu hambanya yang benar-benar menginginkan bertemu dengan Allah dan hambanya yang pergi karena ingin di puji atau yang lainnya.

Kisah ini berasal dari pemuda asal Kabupaten Padan Lawas, Sumatera Utara yang menjadi jemaah haji termuda di Medan, Kelompok Terbang pada kloter kelima, beliau bernama Amir Hasan Martua Lubis. Pemuda ini menceritakan bahwa dirinya bisa mendapatkanA�uangA�untuk biaya naik haji. Amir mengumpulkan biaya haji sejak SMP.

“Sejak SMP sudah nabung. Uang saku sekolah yang dari mamak disisihkan per hari Rp5 ribu,” kata Amir di Asrama Haji Medan.

Amir juga menceritakan, jika niatnya untuk menunaikanA�ibadahA�hajiA�semakin terbuka setelah tamat dari SMA, dirinya langsung kerja di salah satuA�perusahaanA�yang ada di Dumai, Provinsi Riau.

“Dulu waktu sekolah nabung Rp200 ribu per bulan. Tapi setelah kerja bisa nabung Rp500 ribu,” terangnya.

Menjadi jemaah haji Amir tidak sendirian, dia di temani sang Ibu Masdiana Harahap, untuk menunaikanA�ibadahA�keA�tanahA�suci. “NaikA�hajiA�ini bedua sama mamak.A�DoaA�untuk di Mekkah nanti ingin menjadi lebih baik, jadi Haji yang mabrur selalu diberikan karunia Nya.” tutur Amir.

Sementara Masdiana mengatakan bahwasanya dari 7 bersaudara hanya Amir yang bersedia ikut dengannya untuk menunaikan rukun Islam kelima. “Saya tanya satu persatu abang dan kakaknya. Tapi cuma dia mau ikut. Saya pertama kali umrah, dia minta ikut. Kalau mau ikut jangan umrah tapiA�ibadahA�hajiA�saja. Makanya saya daftarkan” jelasnya.

Ketika Amir berangkat sekolah, dia diberikan uang saku Rp 10 ribu per hari, lalu Amir menyisihkan uang sakunya untuk ditabung supaya bisa menunaikan ibadah haji. Amir merupakan orang yang berkehidupan sederhana, dia merupakan anak dari seorang supir dan ibunya berjualan nasi. Namun, siapa yang bisa menyangka seorang dengan kesederhanaannya bisa menunaikan haji bersama ibunya. Semua telah di rancang oleh Allah SWT, manusia hanya menerima apa yang telah di gariskan kepadanya.

Setelah mampu menunaikanA�ibadahA�haji, Amir memiliki niat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. “Kalau sudah pulang dariA�tanahA�suci nanti, saya mau kuliah. Biar bisa jadi konsultan di bidang teknik sipil dan arsitek,” tandasnya. Niat baik selalu mendapatkan hasil yang baik pula.