Jamaah haji harus paham betul apa yang harusnya diperioritaskan agar tidak menguras tenaganya ini.

Haji tahun ini mungkin menjadi haji yang paling berat, karena masalah cuaca menjadi sangat penting. Dan cuaca pada tahun ini dapat menjadi cuaca yang paling ekstrim. Selain itu, cuaca tahun ini juga merupakan cuaca pancaroba, sehingga jemaah haji di harudkan untuk menjaga kesehatannya. Mereka harus dalam kondisi prima untuk melaksanakan rukun haji, yaitu yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melempar jumrah aqabah di Mina (Armina).

Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah (Dirjen PHU) Prof Dr Nizar Ali mengkhawatirkan akan kesehatan jemaah haji yang terlalu memporsir ibadah sunah, seperti umrah. Mereka bisa saja mengalami gangguan kesehatan sehingga pada puncak haji akan kesulitan, bahkan tak bisa melaksanakan Armina.

a�?Yang penting dalam konteks ini adalah stamina. Tidak boleh meninggalkan yang utama untuk mengejar yang sunah,a�? kata Nizar di Syisyah pada Selasa (7/8).

Jemaah haji lebih baik memprioritaskan yang wajib terlebih dahulu, yaitu Armina. Setelah selesai melaksanakan wajib haji, jemaah akan lebih leluasa melaksanakan umrah sunnah dengan tetap menjaga kesehatan jasmani. Dirjen PHU menjelaskan bahwasanya kesehatan adalah hal mendasar di Tanah Suci. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi berusaha menjaga kesehatan jemaah dengan memberikan asupan gizi hingga 2.500 kilokalori yang berasal dari beragam sajian makanan. Makanan yang dibungkus kotak alumunium foil itu berisikan nasi, lauk-pauk dan tumisan.

Stok air minum juga diperbanyak pada musim haji tahun ini. Jemaah mendapatkan air minum dari katering dan hotel setiap hari. Mereka juga tak kesulitan mendapatkan air minum di sekitar Masjidil Haram. Di sana mereka dapat menikmati Zamzam, air yang pertama kali diminum Nabi Ismail dan Hajar ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Hijaz. Upaya tersebut harus didukung oleh jemaah haji dengan menjaga asupan makanan dan menghindari kelelahan. Poin yang kedua ini menjadi catatan, karena banyak jemaah yang memporsir ibadah sunnah sehingga dikhawatirkan mereka nantinya kesulitan melaksanakan puncak haji.

Pembimbing ibadah (bimbad) harus mengedukasi jemaah untuk lebih mendahulukan ibadah wajib. Hal itu dilakukan dengan memberikan imbauan dan ceramah keagamaan di penginapan mereka. Tujuannya agar jemaah menjaga stamina dengan baik sehingga tidak mengalamai gangguan kesehatan ketika puncak haji. Jemaah Kelompok Terbang (Kloter) JKG 08 Matnun (60 tahun) sudah melaksanakan umrah sunnah dua kali. Warga Jagakarsa Jakarta Selatan ini terlihat berihram bersama puluhan temannya di Masjid Tana��im pada Ahad (5/8). Mumpung di Tanah Suci, katanya, ingin memaksimalkan umrah. Sebab, kecil kemungkinan baginya untuk dapat berkunjung ke Tanah Suci pada waktu lain.

Meski sering melaksanakan umrah sunah, Matnun berjanji tetap menjaga kesehatan. MakananA�kateringA�yang diterimanya selalu dikonsumsi. a�?Makan harus teratur. Minum juga banyak, a�? imbuhnya.

Sementara itu PPIH Arab Saudi mencatat sebanyak 145.630 jemaah asal Indonesia sudah tiba di Tanah Suci. Sebagian besar sudah berada di Makkah. Jemaah yang masih melaksanakan Arbaa��in di Madinah akan selesai dan diberangkatkan ke Makkah untuk melaksanakan umrah wajib.