Jamaah yang sudah lansia dan butuh dampingan harus hati-hati agar tidak fatal.

kebanyakan jemaah haji Indonesia berusia sudah tidak muda bisa di katakan sebagai jemaah haji lansia. Namun, dalam segi kesehatan, masih banyak jemaah yang tidak menderita penyakit apapun. Tetapi, jemaah haji yang berusia lansia, harus tetap waspada ketika menjelang puncak haji. Sebab, mereka kerap menjadi incaran penjahat yang berkeliaran di titik keramaian jemaah haji, baik di Makkah maupun Madinah.

Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Jaetul Muchlis mengimbau jemaah lansia tidak berjalan seorang diri. Harus ada yang menemaninya, sehingga selalu terawasi dan menciptakan rasa aman. Sehingga ketika ada orang yang tidak bertanggung jawab, yang mengincar jemaah haji lansia sebagai korban, dipastikan tak akan berani berulah atau tidak berani mengancam jiwa dan raga jemaah haji lansia tersebut.

a�?Orang tak bertanggung jawab itu ada saja. Kejahatan di mana saja ada, terlebih di titik keramaian,a�? kata Jaetul di Syisyah.

Mereka mengincar orang lanjut usia, karena tak berdaya. Korban seperti itu sulit untuk memberontak, karena berbagai keterbatasannya. Salah satunya adalah fisik yang semakin lemah. Tak mungkin berlari mengejar penjahat. Jemaah asal Padang, Asyhari Arif (71 tahun) pekan lalu menjadi korban pencurian. Uangnya 80 riyal dan puluhan ribu rupiah digasak pencuri yang menurutnya mengenakan seragam petugas haji. Pelaku bisa berbahasa Indonesia.

Jaetul menjelaskan, penegakkan hukum perkara ini merupakan kewenangan Polisi Saudi. a�?Kami hanya bisa mencegah,a�? kata Jaetul.

Bentuknya berupa imbauan kepada jemaah melalui pesan singkat ke setiap jemaah untuk tidak tampil berlebihan. Pakaiannya misalkan harus yang sederhana. Tak perlu menggunakan perhiasan macam cincin, gelang, dan lainnya. Barang berharga itu seharusnya tak perlu sampai Tanah Suci. Kalau sudah terlanjur dibawa, maka lebih baik disimpan di hotel. Di sana ada kotak penyimpanan di setiap kamar.

Jika meninggalkan hotel, jemaah tak perlu membawa uang berlebihan. Cukup membawa uang untuk keperluan transportasi, makan dan minum di perjalanan. Jaetul menjelaskan beberapa waktu lalu ada jemaah korban kejahatan yang membawa uang hingga 200 riyal dan belasan juta rupiah. a�?Untuk apa membawa uang sebanyak itu?a�? katanya. Kalau mau membeli oleh-oleh, katanya, tak perlu pula membawa uang hingga ribuan riyal dalam satu waktu. Lebih baik membeli barang yang diinginkan secara berkala. Lagi pula tak perlu membawa barang banyak-banyak sehingga menyulitkan diri sendiri.

Pihaknya juga mengimbau jemaah tak perlu takut dengan pria berseragam petugas haji. Pakaian mereka, kata Jaetul, memiliki nama di bagian depan. a�?Jemaah bisa melihat namanya, kemudian memanggil itu petugas. Mudah mengenali petugas,a�? ujarnya. Kalau jemaah menemukan orang yang mengaku sebagai petugas, sementara pakaiannya lusuh, bendera merah putihnya telah pudar, atau terkesan tak terawat, maka jemaah harus hati-hati. Dia mengatakan, seragam panitia haji setiap tahun selalu baru. Jemaah diimbau melapor kepada petugas terdekat jika menemukan orang-orang mencurigakan.

Jaaetul menjelaskan bahwasanya Masjid al-Haram merupakan titik A�yang paling ramai. Jemaah dari berbagai negara berkumpul di sana untuk beribadah. Meski ramai, ada saja penjahat yang nekat menyelinap. Mereka mampu menembus kepadatan jemaah dan beraksi dengan mengambil paksa barang jemaah.

Ada juga yang berpura-pura menawarkan jasa terlebih dahulu. Kemudian ketika jemaah mengeluarkan dompet, penjahat tersebut mengambil paksa dompet tersebut dan melarikannya. Pihaknya menghimbau kepada petugas kelompok terbang, terutama kepala rombongan dan kepala regu untuk lebih aktif mengawasi gerak-gerik jemaah. Mereka adalah ujung tombak perlindungan jemaah di pusat keramaian.