Inilah Kisah Jemaah Yang Dirampas Tasnya Saat Haji

0
109

Jamaah haji harus hati-hati saat berada diluar tempat tinggal jamaah haji di Makkah.

Jemaah kelompok terbang (kloter) BTJ 01 Manfarijah (65 tahun) menceritakan pengalaman pahitnya di Masjid al-Haram pada Ahad (5/8). Siang itu wanita asal Aceh ini melaksanakan tawaf di sana bersama suaminya Hasbi Yusuf (65). Keadaan yang begitu ramai sehingga dapat memisahkan keduanya. Ketika itu, Manfarijah berusaha mencari suaminya. Kakinya melangkah ke berbagai area sekitar masjid suci, tapi dia tak juga menjumpai kekasih yang mendampinginya sepanjang 40 tahunan.

Lelahnya melaksanakan tawaf, menyebabkan dirinya beristirahat. Dia terduduk di pelataran gerai pusat perbelanjaan sekitar al-Haram. Tiba-tiba datang seseorang mengenakan baju batik. Pria itu mengaku siap mengantarnya pulang, tapi kemudian merampas tas Manfarijah. Di dalamnya terdapat kartu identitas, uang Rp 10 juta dan 1.500 riyal, dua ponsel, dan kacamata. Ada juga kartu anjungan tunai mandiri untuk mengakses rekening berisi uang Rp 10 juta yang merupakan dana pensiun suaminya. Wanita lanjut usia ini tak habis pikir ada orang yang menyasarnya sebagai target pencurian. Tapi sudahlah. Dia tak mau memperkarakan kejahatan itu.

“Saya sudah mengikhlaskan semuanya. Di Tanah Suci ini, harta yang dititipkan kepada saya sudah diambil Allah,” katanya meneteskan air mata di Misfalah, Makkah.

Hasbi Yusuf menjelaskan uang sebanyak itu sengaja disiapkannya untuk biaya menyewa kursi roda. Dia dan istrinya sudah tidak kuat berjalan jauh. Pensiunan pegawai negeri Aceh ini mendengar informasi penyewaan jasa kursi roda dan pendorongnya berharga 500 riyal. Dia ingin memanfaatkan jasa tersebut bersama istrinya bertawaf dan sa’i. Lalu bertahalul. Uang itu juga akan dimanfaatkan untuk menyewa kursi roda di Mina, yang mengantarkannya dari tenda menuju jamarat. “Tapi sudah hilang semuanya. Tak apalah. Nanti Allah yang menggantinya,” kata Hasbi yang mengenakan peci putih.

 

 

Kepala Daerah Kerja Makkah Endang Jumali mengatakan, penjahat yang mengincar jemaah haji melancarkan aksinya dengan beragam cara. Ada yang berpura-pura menawarkan jasa dan berpura-pura menjadi petugas haji, seperti yang dialami jemaah kelompok terbang dua dari Padang Asyhari Arif (71) pekan lalu.

Penjahat juga beraksi dengan berpura-pura sebagai saudara jemaah. Mereka berani beraksi dengan memasuki hotel-hotel jemaah haji, bahkan berani memasuki kamar jemaah. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengantisipasi hal ini dengan menugaskan tim perlindungan jemaah di setiap hotel. Petugas tersebut mendapatkan amanah untuk menjaga keamanan jemaah selama berada di hotel.

Kepala Bidang Perlindungan Jemaah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Jaetul Muchlis mengimbau jemaah lansia tidak berjalan seorang diri. Harus ada yang menemaninya, sehingga selalu terawasi. Orang tak bertanggung jawab, yang mengincarnya sebagai korban, dipastikan tak akan berani berulah. Penjahat biasanya mengincar orang lanjut usia, karena tak berdaya. Korban seperti itu sulit untuk memberontak, karena berbagai keterbatasannya. Fisiknya kian lemah. Tak mungkin berlari mengejar penjahat.

Jaetul menjelaskan, penegakkan hukum perkara ini merupakan kewenangan Polisi Saudi. “Kami hanya bisa mencegah,” kata Jaetul.

Bentuk imbauan ini di sampaikan kepada jemaah melalui pesan singkat ke setiap jemaah untuk tidak tampil berlebihan. Jika meninggalkan hotel, jemaah tak perlu membawa uang berlebihan. Cukup membawa uang untuk keperluan transportasi, makan dan minum di perjalanan.