Jamaah haji dianjurkan saat wukuf tidak banyak keluar dari tenda yang telah ditempati agar tidak terjadi hal yang tida baik.

Menjalankan ibadah wukuf merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh jemaah haji. Petugas haji Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi diinstruksikan untuk membujuk jemaah haji agar menjalankan wukuf di Arafah dalam tenda. Hal ini terkait panasnya sengatan matahari di Arafah pada puncak haji yang dikhawatirkan mengganggu kesehatan jemaah.

Kepala Satuan Operasional Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina) Jaetul Muchlis mengatakan bahwasanya petugas mesti mengedukasi jemaah agar tak keluar tenda pada saat menjalankan wukuf di Arafah. Imbauan dan edukasi itu bisa dengan alasan syara��i maupun kesehatan. Jemaah diharapkan berdiam di tenda karena substansi dari wukuf adalah berdiam diri. Mereka sebaiknya tak banyak bergerak, apalagi sampai keluar tenda.

a�?Kalau dari segi kesehatan, alasannya karena cuaca akan sangat panas di Arafah,a�? kata Jaetul dalam paparannya di Jeddah.

Suhu yang ada di Arafah pada puncak haji nanti bisa mencapai 53 derajat celcius. Cuaca panas itu ditimpali kelembaban rendah sehingga jemaah tak merasa haus meski tubuh telah kekurangan cairan. Hal ini berbahaya karena bisa memicu dehidrasi akut yang bisa berujung macam-macam gangguan kesehatan.

a�?Sebab itu, petugas diharapkan terus mengedukasi jemaah soal hal ini,a�? kata dia.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusuf Singka juga menitipkan sejumlah pesan bagi Tim Preventif dan Promotif (TPP) dan Tenaga medis di masing-masing Kloter (TKHI) untuk disampaikan pada jemaah menjelang puncak haji. Utamanya, agar jemaah haji mempersiapkan diri dengan baik untuk melaksanakan tahapan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan juga Mina (Armina).

Para jemaah haji juga dihimbau untuk makan teratur agar tubuh bertenaga dan tidak mudah sakit. Selain itu, sering minum tidak menunggu haus. a�?Saat Armina nanti suhu di Makkah diperkirakan makin panas. Waspadai risiko kekurangan cairan dan heat stroke,a�? kata dia dalam keterangan yang dilansir kemarin. Jemaah juga diharapkan untuk menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat keluar pondokan atau tenda termasuk saat antre di toilet di Armina. Selanjutnya, mengurangi aktivitas fisik yang tidak perlu dan menyimpan tenaga untuk menyelesaikan Armina. a�?Kurangi aktivitas di luar tenda saat Armina,a�? kata dia.

Pesan selanjutnya adalah mengkonsumsi obat-obatan yang dianjurkan, mengkonsultasikan kesehatan bagi jemaah resiko tinggi, membawa dan mengkonsumsi minuman oralit saat di Armina, serta saling peduli serta saling menjaga antar jemaah, minimal yang sekamar atau seregu. Jemaah juga diharapkan untuk berhati-hati jika menggunakan tangga berjalan atau eskalator di area jamarat karena posisinya yang curam.

Jemaah juga diharapkan membawa pisau cukur sendiri dan tidak dipinjamkan atau meminjam milik orang lain, tak naik ke atas bukit atau tebing serta bebatuan dan tidak berbaring di jalan atau di kolong kendaraan yang terparkir, memilih rute melempar jamarat yang aman dan sudah direkomendasikan oleh petugas haji Indonesiahttps://ihram.asia/, tidak memaksakan diri melempar jamarat ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan, dan melontar jamarat mengikuti waktu yang sudah ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi.

Untuk jemaah Indonesia waktu melontar yang disarankan untuk tanggal 10 Dzulhijjah yaitu setelah ashar atau setelah maghrib dan pada tanggal 11 Dzulhijjah setelah Subuh. a�?Jika melontar di waktu selain itu akan berisiko terpapar suhu yang sangat panas dan berdesakan dengan jemaah dari negara lain yang postur tubuhnya lebih besar dari jemaah Indonesia,a�? ucapnya.