Wajib tahu, inilah hukuman kelak di ahirat bagi yang memakai barang tanpa seizin pemiliknya.

Kebiasaan ghosob adalah kebiasaan yang kurang baik, Maka dari itu hendaknya kebiasaan buruk ini bisa sedikit demi sedikit di kurangi bahkan di hindarkan. Terkait hukum dari ghosob sendiri terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengharamkan ada pula yang memaklumi, mengharamkan karena meminjam barang tanpa izin yang punya, apa lagi tidak langsung di kembalikan dan memberitahu,A� kemudian menimbulkan rasa marah dalam dalam diri pemilik barang, maka ghosob tadi bisa di hukumi haram. Namun yang berbeda pendapat mamiliki alasan bahwasannya karena hidup di lingkungan pesantren sudah terjalin suasana keakraban dan kekeluargaan yang begitu erat, maka mereka saling berbagi serta meminjam barang kecil seperti sandal, piring ataupun sendok.

Kebiasaan para santri langsung meminjamnya tanpa izin terlebih dahulu dan yang mempunyai barangpun biasanya sudah meridhoi A�dengan catatan jika barangnya di pinjam kemudian di kembalikan, maka ghosob ini tidak lagi di hukumi haram. seperti ucapan salah satu kyai dari jawa tengah yaitu K.H Anwar Zahid, mengatakan bahwasannyaA�Santri ghosob neng pesantren iku ibarat tai cecek seng kecemplung banyu lewih soko rong kolahA�.A�Asal tai ceceke gak sekarung.A�Yang artinya santri ghosob di pesantren itu ibaratkan kotoran cicak yang masuk ke dalam air yang ukurannya lebih dari dua kolah, asalkan kotoran cicaknya tidak sampai sekarung. Jika di simpulkan maksud dari pernyataan tersebut, hukum asal ghosob yaitu haram, bisa tidak haram jika tidak dilakukan berkali-kali kemudian kita meminta maaf A�telah menggunakan tanpa izin, kemudian kembalikan ketempat semula, dan mendapat ridho dari yang punya barang. Maka kita akan terhindar dari dosa menghosob.

Ada beberapa faktor yang menyebabakan kebiasaan ghosob yang sering terjadi di kalangan para santri, faktornya antara lain, hilanganya sandal yang santri miliki atau tertukarnya sandalnya santri yang satu dengan yang lainnya. Faktor ini merupakan penyebab utama dari sirkulasi dan kebiasaan ghosob-mengghosob, sebab ketika santri melihat sandalnya tidak ada sedangkan dia mau menggunakannya, maka muncullah tindakan untuk mengghosob. Sebenarnya niat awal hanya untuk meminjam meskipun tidak bilang terlebih dahulu dan tidak ada niatan untuk mencuri atau mengambil, karena stelah di pakaipun langsung di kembali ketempat awal, akan tetapi karena banyaknya santri yang kehilangan sandal juga tak hanya satu atau dua santri sehingga kebiasaan ghosob ini terus berlaku.

Faktor kedua, karena ghosob sudah menjadi sesuatu kebiasaan, maka para santri menggampangkan dan menganggap ringan tindakan ghosob,A� padahal jika di telaah lebih jauh, mengghosob merupakan salah satu tindakan yang merugikan karena meminjam sesuatu tanpa meminta izin pemiliknya sama saja seperti mencuri. Meskipun niat awal tidaklah mencuri. Jadi, hukum dari meng-ghosop tetaplah tidak boleh atau haram.