Umroh saat muda lebih baik daripada umrah saat usianya sudah tua, karena banyak saat ini usia jamaah yang berumrah diatas umur 50 tahun.

Ibadah umrah tidak hanya menjadi pemikat orang yang sudah berumur, tetapi juga dapat menjadi pemikat para pelajar atau keluarga yang melakukan umroh secara bersama-sama. Tren umrah di kalangan pelajar dan keluarga di Indonesia khususnya di Jawa Barat terus meningkat beberapa tahun terakhir. Hal tersebut terjadi lantara proses pendaftaran hingga keberangkatan umrah tidak membutuhkan waktu lama dibandingkan haji.

“(Ibadah) haji reguler dan plus di Bandung (waktu tunggu) di angka 15 tahun ke atas. Umrah jadi solusi. Ini menjadi tren karena dalam seminggu bisa langsung berangkat,” ujar Direktur Dago Wisata Internasional, Dodi Sudrajat saat Seminar Umrah Pelajar dan Keluarga di Bandung akhir pekan ini.

Ia menuturkan, beberapa tahun terakhir jemaah yang berangkat umrah melalui Dago Wisata Internasional rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Namun tahun sekarang mulai banyak pelajar dan keluarga melaksanakan umrah. “Jadi tidak ada anggapan haji atau umrah itu pas tua,” ungkapnya.

Dodi mengatakan bahwasanya pihaknya sengaja mengadakan seminar umroh pelajar dan keluarga untuk mendorong agar para keluarga yang sudah mampu untuk berangkat umrah. “Kalau Allah mampukan, yuk daripada jalan jalan ke Bali atau Bangkok yang dananya tidak jauh beda ketika umrah kenapa tidak datang umrah saja,” katanya.

Dirinya menambahkan bahwasanya, setiap jemaah yang berangkat diharapkan bisa memahami makna keberadaan mereka saat ibadah umrah. Menurutnya, berdasarkan pengamatan mereka yang umrah memiliki tiga karakter yang berbeda. Ia mengatakan bahwasanya terdapat jemaah yang hanya menikmati fasilitas umrah tanpa memahami keberadaannya di Makkah atau Madinah. Karakter yang kedua adalah jemaah yang secara fisik ada namun tidak memahami dengan aktivitas yang dilakukannya.

Sementara karakter ketiga adalah jemaah yang memahami keberadaannya saat ibadah dan menyerap makna-makna selama ibadah. “Kami ingin menghadirkan (mereka yang umrah, pelajar dan keluarga) belajar nyata kesana,” ungkapnya.

Ia mengaku cukup sedih dari total 5.000 jemaah yang berangkat melalui Dago Wisata Internasional untuk umrah hanya sekitar 50 persen yang memahami makna umrah. “Yang memahami makna umrah atau mabrur sebelum umrah itu dibawah 50 persen,” katanya.

Dodi menambahkan pada 2018 pihaknya menargetkan bisa memberangkatkan 5.000 jemaah umroh. Kemudian, ia mengungkapkan jika selama ini perusahaan yang dijalankannya tidak hanya mengejar profit. Akan tetapi juga sosial. “Kami rutin mengumrahkan marbot,” katanya.

Salah seorang peserta Ari yang berasal dari Padalarang mengaku sudah pernah melaksanakan ibadah umroh satu keluarga. Alasannya, ia bersama keluarga ingin lebih tahu dan lebih dekat dengan Allah SWT.

“Sempat dengar dari orangtua soal raudhah. Alhamdulillah saat dengan keluarga umrah bisa masuk meskipun penuh dengan jemaah,” ungkapnya. Dirinya pun mengaku bangga bisa mengajak anaknya umrah dan berharap bisa melaksanakan haji.