Kuota haji 2019 tetap tidak ada tambahan. Menteri agama Indonesia menerangkan hal ini berkaitan dengan peraturan yang telah ada ini.

Kuota yang diberikan oleh Arab Saudi tidak sebanding dengan jumlah pendaftar haji. Dan inilah yang mengakibatkan banyaknya jemaah haji yang mengantre sampai 10 tahun mendatang. Seperti yang terjadi di negara Indonesia, ketika jemaah akan melakukan haji, haruslah mengantre sepanjang 10 tahun, banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, tetapi masih belum bisa menambah kuota pada tahun ini.

Pemerintah Indonesia menandatangani perjanjian bilateral dengan pemerintah Arab Saudi mengenai pengaturan haji 2019. Menteri Haji dan Umrah Saudi Mohamemd Saleh Benten dan Menteri Agama Indonesia Lukman Hakim Saifuddin menandatangani perjanjian di kantor menteri Saudi di Makkah.

Pada kesempatan itu, dari pihak Saudi hadir wakil Menteri Haji dan Umrah Abdulfattah Bin Sulaiman Mashat, Sekretaris untuk Pelayanan di Kementerian Haji Muhammad Bin Saleh Sharikh dan pejabat senior lainnya. Sedangkan dari pihak Indonesia pejabat kementerian agama termasuk tim penilai kualitas, Konsul Jenderal Mohamad Hery Saripuddin dan pejabat senior lainnya juga turut hadir.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia meminta Arab Saudi untuk meningkatkan kuota yang ada untuk memenuhi daftar tunggu jemaah yang terus bertambah. Di samping itu, Indonesia disebutkan juga mencari perluasan dari proyek Makkah Road ke lebih banyak bandara di Saudi. Namun, Saripuddin mengatakan tidak ada peningkatan kuota untuk jemaah Indonesia pada ibadah mendatang.

“Indonesia dan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian haji tahunan tentang kuota yang ada 221 ribu dan tidak ada peningkatan,” kata Saripuddin, seperti yang dilansir di Saudi Gazette.

Saripuddin mengatakan bahwasanya, terdapat sebanyak 3,9 juta orang Indonesia telah terdaftar untuk menunaikan ibadah dan periode minimum mereka adalah 10 tahun. Dia mengatakan, mengingat tingginya permintaan, Indonesia telah mendesak Arab Saudi untuk meningkatkan kuota jemaahnya.

Selain itu, menurutnya, Indonesia ingin memperluas Proyek Makkah Road untuk pra-pembebasan jemaah untuk masuk tanpa kesulitan pada saat kedatangan di Kerajaan dari Jakarta ke semua titik embarkasi di negara tersebut. Konsul jenderal tersebut mengatakan, bahwa jemaah Indonesia terbang dari 12 titik embarkasi. Beberapa dari mereka lebih ramai daripada bandara Jakarta.

“Kami mengadakan berbagai diskusi mengenai transportasi darat di dalam Kerajaan dan juga fasilitas perumahan bagi jemaah. Tim khusus dari Quality of Service Performance Index dari pemerintah Indonesia bergabung dengan kami untuk menilai layanan ini,” tambahnya.

Negara Indonesia menekankan perlunya memastikan kualitas makanan khas daerah yang disajikan kepada jemaah. Ia juga menyarankan agar makanan bagi jemaah Indonesia dimasak oleh orang Indonesia asli.