Fasilitas haji Indonesia terus diperbaiki untuk keamanan dan kenyamanan para jamaahnya. Ini juga merupakan perhatian khusus pemerintah pada jamaah.

Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan bagi yang mampu. Akan tetapi, di Indonesia kuota untuk melakukan haji tidak bisa semua yang daftar, tetapi harus menunggu dengan antrian yang cukup panjang, yang lebih dari 10 tahun lamanya. Hal ini dikarenakan umat muslim di Indonesia banyak yang berminat untuk melakukan haji, akan tetapi belum ada tambahan terkait jumlah kuota.

Haji setiap tahun memang mengalami kenaikan yang signifikan. Akan tetapi, kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi tidak mengalami kenaikan atau berjumlah sama. Selain itu, fasilitas yang ada di Arab Saudi juga belum mengalami perbaikan. Masih banyak fasilitas yang belum diperbaiki. Akan tetapi, kabarnya, pemerintah akan menambah kuota haji Indonesia, tapi hal ini belum di konfirmasi oleh pemerintah.

Komisi Pengawasan Haji Indonesia (KPHI) meminta pemerintah dapat mengimbangi perbaikan fasilitas sarana dan prasarana jemaah haji pada tahun depan apabila ingin menambah jumlah kuota jemaah haji. Perbaikan tersebut terutama fasilitas untuk jemaah haji perempuan meliputi kapasitas tenda dan toilet di Mina.

“Menambah kuota tanpa menambah kapasitas kemah Mina bagi jemaah haji Indonesia akan mendatangkan mudharat yang besar, karena space tiap jemaah pada tahun yang lalu hanya sekitar 0,9 meter persegi per orang,” ujar Ketua KPHI Samidi Nashir.

Menurutnya, di kawasan Mina seharusnya jemaah haji Indonesia bisa recovery sejenak untuk memulihkan fisik setelah sekurangnya sehari semalam tidak bisa istirahat karena prosesi Arafah dan Muzdalifah. Selanjutnya akan menghadapi pelaksanaan ibadah wajib melontar Jamarat yang menguras tenaga dan ibadah yang termasuk rukun yaitu tawaf ifadhah beserta rangkaiannya yang situasinya sangat penuh sesak.

 “Jika di Mina kemahnya tidak ada perbaikan maka akan berdampak pada semakin banyaknya jemaah kita yang mengalami emergency,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwasanya, saat ini di dalam negeri kuantitas dan kualitas bimbingan manasik haji juga harus ditingkatkan. Tujuannya agar jemaah menjadi mandiri dan tidak tergantung pembimbing dalam beribadah haji. selain itu, juga dapat memebrikan sedikit pembebasan kepada jemaah haji untuk tidak selalu bersama pembimbing ketika bepergian.

“Antrean yang sangat panjang mestinya dimanfaatkan untuk menyiapkan kemampuan jemaah lebih baik,” ungkapnya.