Agar fokus, petugas haji yang mendapingi jamaah haji saat di tanah suci dilarang melakukan aji alias tidak boleh berhaji.

Ibadah haji memang ibadah yang tidak bisa dibadalkan atau disambi dengan hal lain. salah satunya adalah ketika menjadi petugas haji atau yang lainnya. Untuk saat ini, tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) kolter dan nonkloter diminta untuk berfungsi sesuai tugasnya menjadi pelayan jemaah haji. Mereka diminta tidak bertugas sambil melaksanakan ibadah haji, supaya bisa fokus memberi pelayanan terbaik kepada jemaah haji.

“Petugas kesehatan haji harus bisa bertugas dan berfungsi selayaknya petugas, artinya harus optimal dalam bertugas melayani jemaah haji karena mereka telah dibayar oleh negara,” kata Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia sekaligus Pengamat Haji dan Umrah Indonesia, Ade Marfuddin.

Ade mengatakan bahwasanya, TKHI hadir di Tanah Suci bukan untuk melaksanakan ibadah haji tapi untuk bertugas melayani jemaah haji. Kalau mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dengan maksimal, maka akan berjalan proporsional. Ia menegaskan bahwasanya, petugas kesehatan dan petugas lainnya tidak boleh bertugas sambil melaksanakan ibadah haji. Mereka dibayar untuk bertugas melayani tamu Allah atau jemaah haji. Menurutnya, dalam pelaksanaan haji tahun lalu masih banyak petugas haji yang bertugas sambil melaksanakan ibadah haji. Hal inilah yang dinilai tidak efektif dalam melayani jemaah haji. selain itu, petugas yang juga melakukan haji pastilah akan memikirkan ibadah hajinya daripada tugas yang diembannya.

“Petugas haji Malaysia itu petugas hajinya semuanya berpakaian seragam, mereka bangga tidak berpakaian ihram di Makkah, sementara petugas kita mulai dua tahun ini ada yang tidak memakai ihram, mereka pakai seragam tapi baru sedikit,” ujarnya.

Ade menyampaikan bahwasanya, petugas haji nonkloter, kloter, dokter dan paramedis semuanya dalam rangka menjalankan tugas. Optimal dalam menjalankan tugas bisa mengurangi angka kesakitan dan kematian jemaah haji. Juga bisa mengurangi jumlah jemaah haji yang mengeluh. Sehingga pelayan di bidang kesehatan bisa maksimal dan dapat meminimalkan jemaah haji yang mengalami sakit atau drop ketika pelaksanaan haji. Bukan berarti melarang petugas haji untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka bisa melaksanakan ibadah umrah sebelum jemaah melaksanakan ibadah haji. Petugas haji juga sebaiknya sebanyak 80 persennya harus sudah pernah melaksanakan haji.

“Petugas itu sebanyak 70 persen sampai 80 persennya wajib sudah berhaji, sehingga mereka bisa bekerja proporsional dan bisa mengcover petugas yang belum berhaji yang 20 persen itu,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwasanya, jumlah petugas tetap sama atau ditambah terserah pemerintah. Tapi yang perlu dilakukan adalah mengembalikan tugas dan fungsi sebagai pelayanan jemaah haji. Mereka harus sadar dibiayai oleh negara dan dana haji, maka harus bisa melayani dengan baik jemaah haji sejak berangkat sampai kepulangan.