Ini adalah beberapa hadits yang berkaitan dengan hukum embunuh serangga atau hewan yang juga termasuk makhluk Allah SWT dan bertasbih seperti manusia.

Sebagai umat muslim, kita diajarkan untuk saling menyayangi semua makhluk Tuhan, tanpa terkecuali hewan dan tumbuhan. Sesungguhnya mereka makhluk Tuhan yang juga bernafas dan bertasbih kepada Tuhan. Dalam menciptakan makhluknya, Allah telah menciptakan juga manfaat dan juga madhorotnya. Sehingga semua hewan memiliki kegunaan yang berbeda-beda.

Namun, banyak orang yang jijik atau takut pada hewan-hewan tertentu. Bahkan menurut sebagian orang, hewan-hewan tersebut termasuk dalam hewan yang kotor atau jorok. Padahal yang kita tahu, binatang juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang wajib kita jaga. Akan tetapi, jika terdapat hewan yang menjijikkan, apakah kita boleh membunuhnya?. Berikut ini adalah penjelasan terkait boleh atau tidaknya membunuh hewan tersebut :

Membunuh ular, tikus dan kecoa dan binatang sejenis merupakan perkara diperbolehkan karena binatang-binatang tersebut bersifat mengganggu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحِلِّ وَالْحَرَمِ الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَارَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ وَالْحُدَيَّا

Lima (hewan) perusak yang boleh dibunuh di luar tanah suci dan di tanah suci yaitu: ular, gagak, tikus, serigala dan rajawali [Muttafaqun ‘alaihi].

Disebutkan juga pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membayakan [HR Ibnu Majah dan dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ al-ghalil no. 896].

Sedangkan para Ulama juga menetapkan kaedah yang berbunyi :

الضَرَرَ يُزَالُ

Semua madharat (bahaya, gangguan) (harus) dihilangkan.

Tentang masalah membunuh serangga yang sering ada di dalam rumah seperti kecoa, semut dan sejenisnya pernah ditanyakan kepada Syaikh Bin Bâz rahimahullah dan beliau menjawab:

Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya serangga-serangga tersebut apabila menimbulkan gangguan maka boleh dibunuh, namun tidak boleh dilakukan dengan menggunakan api (dibakar). Boleh dibunuh dengan berbagai alat pembasmi lainnya.

Nabi SAW telah memberitahukan bahwa sifat pengganggu melekat pada hewan-hewan tersebut. Dalam bahasa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , binatang-binatang pengganggu itu disebut fawâsiq . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan untuk membunuhnya. Demikian juga serangga-serangga, diperbolehkan membunuhnya di tanah suci dan luar tanah suci apabila binatang-binatang tersebut menimbulkan gangguan, seperti semut, kecoa, nyamuk dan hewan lain menimbulkan gangguan. [Majmû’ Fatâwa wa Maqâlât Mutanawwi’ah 5/301-302].

Dari beberapa hadits tersebut dapat disimpulkan bahwasanya membunuh serangga-serangga yang mengganggu boleh dilakukan. Akan tetapi tidak diperbolehkan jika membunuhnya dengan cara membakarnya, bunuhlah hewan pengganggu tersebut dengan alat pembasmi lain yang tidak menimbulkan sakit yang berkepanjangan pada hewan tersebut. Hal ini telah sesuai dengan ketentuan Rasulullah SAW. sehingga sebagai umat muslim kita harus bisa menaati peraturan dan menjalankan perintah yang telah ditentukan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bisshowab.