Ketika membaca Al-Qur’an, banyak orang yang merasa terharu dengan membaca ayat serta artinya. namun, bolehkah menangis dihadapan orang dengan niat lain?

Selain menjalankan ibadah wajib, umat muslim juga diharapkan dapat menjalankan ibadah sunnah seperti membaca Al-Qur’an. Bagi sebagian umat muslim, membaca Al-Qur’an setiap hari adalah wajib hukumna. Bagaimana tidak wajib, kita hanya perlu waktu beberapa menit saja untuk menyisihkan membaca Al-Qur’an. Jika tidak dengan menyisihkan, kita tidak akan sempat untuk membaca Al-Qur’an dan akibatnya, bacaan terhadap Al-Qur’an semakin tersendat-sendat.

Saat ini, kita sering menjumpai seseorang yang membaca Al-Qur’an di tepi-tepi jalan atau di tempat umum. Bahkan, seseorang tersebut terkadang menangis tersedu-sedu. Tidak hanya di tempat-tempat umum, seorang qari’ biasanya juga menangis tersedu-sedu. Bahkan, ustadz yang di televisi pun juga menangis tersedu-sedu, tak jarang banyak juga yang menganggap bahwa itu adalah tangis yang sengaja dibuat-buat untuk menarik simpati dan hati dari penonton. Bagaimana hukumnya menangis tersedu-sedu ketika membaca Al-Qur’an?

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama yang harus kita perhatikan adalah kita hanya bisa memvonis tangisan yang mengiringi bacaan Al-Qur’an itu secara zahirnya saja, karena yang menjadi objek hukum adalah perkara zahir, yakni orang tersebut menangis pada saat membaca Al-Qur’an.

Dalam hal ini, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur’an sangat disunnahkan karena menangis saat membaca Al-Qur’an adalah sifat atau ciri-ciri orang-orang yang arif dan hamba-hamba yang saleh.

فإن البكاء عند القراءة صفة العارفين  وشعار عباد الله الصالحين

Artinya, “Sesungguhnya menangis saat membaca Al-Qur’an adalah sifatnya orang-orang yang arif dan syiarnya hamba-hambah Allah yang saleh,” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawi, [Beirut, Darul Kutub Al-Islamiyah: 2004], juz I, halaman 165).

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa menangis saat membaca Al-Qur’an adalah salah satu tanda atau implikasi dari kekhusyuan. Dalam hal ini, Imam An-Nawawi mengutip Surat Al-Isra ayat 109:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra ayat 109).

Hal ini juga didukung sebuah hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dan Ibnu Majjah bahwa Rasul meminta kita untuk pura-pura menangis saat tidak mampu menangis ketika membaca Al-Qur’an.

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan kesedihan, jika kalian membacanya, maka menangislah, dan jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah untuk menangis,” (Lihat Ibnu Majjah, Sunan Ibn Majjah, (Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], halaman 424).

Terkait tujuan dari tangisan itu apakah untuk menarik perhatian orang lain atau tidak, itu adalah urusan si qari’ dengan Allah SWT. Jika dia menangis untuk menarik perhatian penonton, bukan karena Allah SWT, maka hanya Allah SWT yang dapat mengetahui dan berhak untuk menentukan diberikannya pahala kepadanya. Sahabat ihram, sebaiknya ketika melakukan ibadah sunnah maupun ibadah wajib haruslah dilakukan dengan hati yang ikhlas dan tulus kepada Allah SWT.