Haji merupakan ibadah wajib yang dilakukan oleh umat muslim di dunia. dalam hal praktik, ketika akan pergi ke negara lain, pastilah mengurus Visa.

Melakukan haji sesuai tuntunan Rasulullah adalah dambaan bagi semua umat muslim di dunia. Bagaimana tidak, untuk saat ini, melakukan haji tidak semudah tahun-tahun yang lalu. Jika tahun-tahun yang lalu melakukan haji tanpa harus menunggu, saat ini harus menunggu dengan jangka waktu yang sangat lama. Sebenarnya melakukan haji langsung bisa, dengan menggunakan haji khusus, akan tetapi biaya yang dikeluarkan sangat banyak dan lebih mahal dari haji reguler.

Bagi masyarakat yang kelebihan dana atau sangat kaya, pergi haji bukanlah sebuah masalah. Namun, terdapat beberapa peraturan lagi terkait naik haji untuk kedua kalinya atau ketiga kalinya. Padahal, Rasulullah hanya bisa melakukan haji sekali dalam seumur hidupnya. Menjalankan ibadah haji merupakan menjalankan ibadah yang sakral bagi umat muslim.

Pada tahun ini, terdapat peraturan baru yang ditetapkan oleh Arab Saudi memberlakukan biaya visa haji secara progresif berlaku bagi jamaah yang kembali berhaji di tahun ini.

“Sesuai ketentuan dan sistem imigrasi Arab Saudi, jamaah yang sudah berhaji akan terkena biaya visa progresif. Tahun ini biayanya dibebankan kepada jamaah haji yang bersangkutan,” kata kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nizar Ali.

Dia mengatakan bahwasanya visa progresif sejatinya sudah diberlakukan bagi jamaah Indonesia pada 2018 tapi biaya ditanggung melalui dana tidak langsung (indirect cost) hasil optimalisasi dana setoran awal jamaah calon haji.

Mulai tahun 2019, biaya visa progresif dibayar sendiri oleh jamaah haji yang bersangkutan sebagaimana keputusan pemerintah bersama Komisi VIII DPR RI.

Adapun nilai biaya visa progresif sebesar dua ribu Riyal Saudi atau sekitar Rp7,6 juta. Biaya visa tersebut dibayar bersamaan dengan pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Kementerian Agama segera mengindentifikasi jamaah yang akan kembali berhaji melalui basis data Siskohat Kemenag yang dicocokkan dengan e-Hajj milik Arab Saudi. Diharapkan, jemaah yang sudah pernah berhaji lebih sedikit mengalah dengan jemaah haji yang belum pernah haji. Serta diharapkan untuk memberikan kesempatan pada yang lainnya.

“Ada kemungkinan, jamaah dalam data Siskohat belum berhaji tapi di data e-Hajj sudah pernah sehingga harus membayar visa progresif. Jika ada yang seperti itu, maka jamaah akan diminta membayarnya setelah visanya keluar. Jika tidak visanya dibatalkan,” kata dia.

Nizar mengatakan bahwasanya tahun ini biaya pembuatan paspor juga menjadi tanggung jawab pribadi jamaah haji. Dengan begitu, tidak ada penggantian biaya pembuatan paspor yang selama ini dilakukan saat jemaah masuk asrama haji.

“Banyak jamaah haji yang telah memiliki paspor sebelum berangkat haji”