Setiap wanita pasti pernah merasakan atau pernah terjadi keputihan, namun apakah semua wanita mengetahui hukum dari keputihan itu sendiri?

Sebagai seorang wanita pastilah tidak asing dengan istilah keputihan, haidh, madzi, maupun yang lainnya. Namun, apakah semua wanita mengetahui hal tersebut?. Tentunya tidak. banyak wanita yang belum mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Terus, apakah sholatnya sah?, apakah ibadah-ibadah yang dilakukannya sah dan mendapatkan pahala seperti semula?. Kita tidak tahu hal demikian. Hanya Allahlah yang mengetahuinya.

Keputihan sering dialami oleh wanita dalam jangka yang cukup panjang. Sehingga menjadikan wanita kebingungan antara darah haidh yang keruh, keputihan dan madzi. Setelah itu, akan muncul beberapa pertanyaan, seperti apakah keputihan itu bersifat najis?, bagaimana sholatnya?, apakah sah atau tidak?, lalu bagaimana cara mengatasinya?.

Perlu kita ketahui, bahwa cairan keputihan tidak termasuk darah haidh. Cairan putih sebab keputihan itu hukumnya najis, karena keluar dari dalam ms V. Untuk menjawab pertanyaan mengenai sholatnya bagaimana, maka diberlakukan hukum orang yang beser, atau ketika mengalami keputihan secara terus menerus keluar dari area tersebut, maka dihukumi seperti orang yang beser.

Untuk cara mengatasinya adalah dengan mensucikan kemaluan/ms V setelah itu disumbat dengan kapas atau pembalut. Kemudia berwudhu dan menyegerakan sholat. Alangkah lebih baik jika menata perlengkapan sholat seperti sajadah dan mukenah terlebih dahulu, kemudian ketika selesai dibersihkan dan berwudhu, bisa langsung melakukan sholat.

Sesungguhnya orang yang beser atau orang yang menderita keputihan tidak boleh menunda-nunda sholat setelah berwudhu, kecuali untuk kemaslahatan sholat seperti menjawab adzan atau menunggu jama’ah.

Dasar pengambilan beberapa pendapat tersebut adalah Hasyiyah Jamal II hal. 149 yang memiliki arti (pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madi dan keringat. Titik dari masalah ini adalah ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib dibersihkan.

Jika cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal tersebut merupakan cairan yang berasal dari dalam. Apabila cairan itu keluar dai anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka hukumnya menjadi mutanajis.

Dalam kitab Minhaj al Tullab I hal. 26, dijelaskan bahwa Istihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi orang yang sedang dalam istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Jadi tidak perlu mandi keramas terlebih dahulu ketika melakukan ibadah-ibadah seperti sholat atau membaca Al-Qur’an.Dapat disimpulkan bahwa keputihan dihukumi najis, maka sebelum melakukan sholat lebih baik membasuh kemaluan dan menggunakan pembalut untuk menyumpal keputihan yang sedang dialami.

Dapat disimpulkan bahwa keputihan dihukumi najis, maka sebelum melakukan sholat lebih baik membasuh kemaluan dan menggunakan pembalut untuk menyumpal keputihan yang sedang dialami.