Dalam hal berumah tangga, pastilah mengalami badai atau pertikaian, nah bagaimana cara menyikapinya?. Inilah cara ala Rasulullah menyikapi hal tersebut.

Marah dan kecewa adalah dua sifat manusia yang tidak bisa diganggu gugat. Rasulullah memiliki sifat penyabar namun, tidak menutup kemungkinan beliau pernah beberapa kali merasakan hal yang sama dengan manusia seperti biasanya, karena beliau juga makan dan minum seperti manusia pada umumnya. Bedanya adalah Rasulullah selalu dalam penjagaan Allah SWT, segala tindak tanduknya terbebas dari kemaksiatan karena dijaga oleh Allah SWT.

Seperti halnya seorang yang berumah tangga, Rasulullah pernah juga bertengkar atau berselisih dengan istrinya. Salah satu kisah yang diambil dari buku kisah-kisah romantis Rasulullah menyebutkan bahwasanya Rasulullah dan Aisyah pernah berselisih. Ketika itu, Aisyah berbicara sangat keras dan lantang kepada Rasulullah dari bilik kamar. Pada waktu yang bersamaan, Abu Bakar as-Shiddiq bertamu ke rumah Rasulullah. Mengetahui Aisyah berbicara lantang tersebut, Abu Bakar mengetahui bahwa putrinya sedang bertikai dengan Rasulullah. Kemudian, Abu Bakar meminta izin kepada Rasulullah untuk menemui putrinya.

Ketika Abu Bakar sudah berhadapan dengan Aisyah, Abu Bakar kemudian mengangkat tangannya karena hendak memukul Aisyah. Hal ini dikarenakan menurut Abu Bakar, berbicara lantang di hadapan suami tidak diperbolehkan. Namun, seketika itu, Rasulullah datang untuk mencegah perbuatan Abu Bakar. Pada hari berikutnya, ketika Abu Bakar ke rumah Rasulullah beliau mendapati bahwa menantunya (Rasulullah) dan putrinya (Aisyah) sudah baikan dan tidak bertengkar lagi.

Telah diceritakan juga bahwa suatu ketika Rasulullah marah kepada Aisyah karena satu dua hal. Kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk menutup mata dan mendekat. Seketika itu Aisyah merasa cemas karena mengira akan dimarahi Rasulullah akibat perbuatan yang dilakukannya. Tetapi, Apa yang dibayangkan Aisyah ternyata meleset. 

Khumaira ku (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah) telah pergi rasa marahku setelah memelukmu,” kata Rasulullah. 

Dari cerita Rasulullah tentang berumah tangga di atas, ada dua hikmah yang bisa dipetik. Terutama bagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istri ketika mereka cekcok atau dalam keadaan tidak enak hati karena perbuatan salah satu pasangan atau karena hal yang lain. hikmah dari peristiwa tersebut adalah :

Pertama, tidak melibatkan orang lain. Persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan sendiri, tidak perlu melibatkan orang lain meskipun itu orang tua sendiri atau mertua. Rasulullah pun mencegah Abu Bakar yang notabennya mertuanya sendiri untuk ‘ikut campur’ dalam permasalahan rumah tangganya. 

Kedua, menghilangkan kemarahan terhadap istri dengan mendekapnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah, ketika seorang suami atau istri marah atau berselisih dengan pasangannya maka hendaknya ia langsung memeluk pasangannya. Jangan malah menampar atau memukulnya. 

Pengajaran terkait bertengkar atau berselisih tentang pendapat telah diajarkan Rasulullah untuk menyikapinya, tinggal kita mengambil pelajaran dan sebisa mungkin menerapkannya pada rumah tangga yang telah dibina. Jika sudah memiliki anak, maka pikirkanlah kondisi psikis anak. semoga kita selalu dalam lindungan Allah dalam menjalankan syariat dan selalu dalam jalan yang di Ridhai-Nya.