Ramadhan adalah bulan Suci dan biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh semua umat muslim, tanpa terkecuali penduduk yang berada di Kota Gaza.

Ramadhan adalah bulan suci yang biasanya tempat orang memanjatan doa dan ampunan kepada Allah SWT. Ramadhan adalah bulan penantian, bulan yang sangat dinantikan oleh semua umat muslim di dunia, tapa terkecuali negara yang terkena genjatan senjata dan penuh konflik. Ramadhan sangat dinantikan oleh anak-anak bahkan orang dewasa untuk memanjatkan doa agar mereka tidak lagi merasakan bom setiap harinya.

Siapa yang tidak mengetahui bahwa negara Palestina kini sedang mengalami banyak cobaan. Selain cobaan hidup, mereka juga mengalami tekanan psikologis. Bagaimana tidak mengalami tekanan psikologis, hampir setiap hari di Kota Gaza menerima genjatan senjata dari Israel. Semakin hari, semakin menipis daerah di Gaza, hampir semua jalur telah di kuasai oleh Israel, mulai dari jalur darat, laut hingga udara.

Ramadhan telah datang, artinya bulan suci untuk memanjatkan doa-doa kepada Allah harus semakin di tingkatkan. Banyak dari anak-anak menginginkan untuk terbebas dari bom atau senjata-senjata mematikan. Cerita yang diperoleh dari salah satu artikel menyebutkan bahwasanya pada Ramadhan tahun ini, mereka berkumpul pada satu rumah, akan tetapi rumah tersebut diserang oleh tentara Israel. Akibatnya, terdapat beberapa korban jiwa, mulai dari anak-anak dan dewasa.

Kegelapan dan genjatan senjata setiap hari selalu dirasakan oleh anak-anak setempat. Mungkin mereka lelah dan bahkan ada yang tidak menerima taqdirnya, tetapi tidak dengan anak-anak yang berada di jalur Gaza. Mereka tetap tabah menghadapi setiap ujian dan menjalani rintangan yang ada. Tentara Israel selalu menjaga Gaza dengan ketat, akibatnya stok makanan dan air bersih mulai berkurang. Akan tetapi, berbagai bantuan sebisa mungkin akan sampai di tangan penduduk Gaza.

Bantuan tersebut mulai dari bantuan untuk sahur berupa roti yang menjadi makanan pokok Palestina, maupun makanan pendamping seperti susu, atau buah-buahan yang lainnya. Selain bantuan untuk sahur, beberapa relawan juga membantu pada saat berbuka puasa. Para relawan menjamin kehidupan penduduk sekitar dan selalu berupaya untuk membebaskan penduduk dari genjatan senjata Israel.

Pada hari pertama Ramadhan, tim atau relawan dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) mengikuti sahur bersama di salah satu rumah penduduk. Tim merasakan kehangatan walaupun kegelapan yang mereka rasakan. Gelap tak ada listrik, bahkan air bersihpun tak ada di rumah tersebut. Inilah yang wajib kita syukuri sebagai penduduk Indonesia, yang sudah aman dan nyaman, bahkan sudah tidak ada ketegangan yang mencekam, tidak ada kegelapan karena listrik tidak mengalir dan pastinya masih ada air bersih yang bebas kita konsumsi. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT, serta doakanlah saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan kotanya. Wallahu a’lam bisshowab.