Setiap Daerah bahkan Negara memiliki budaya masing-masing dalam menjalankan Hari Raya atau unjung-unjung, bagaimana budaya lebaran di Negara Seribu Menara?

Sebentar lagi tidak kurang dari tujuh hari umat muslim seluruh dunia akan menemui hari raya Idul Fitri. Hari itu adalah hari yang membahagiakan karena setelah sebulan penuh berpuasa akhirnya mencapai kemenangan. Untuk itu setiap keluarga bahkan setiap orang mempersiapkan diri  untuk menyambut hari tersebut. Di Indonesia sendiri ada banyak budaya yang melekat pada setiap hari raya Idul Fitri.

Seperti mudik, takbir keliling, Halal bihalal, mengunjungi keluarga dan lain-lain. Tidak hanya di Indonesia negara muslim lain juga mempunyai budaya tersendiri untuk merayakan hari raya idul Fitri salah satunya di Maroko.

Di negara seribu menara ini agaknya sedikit berbeda dengan Idul Fitri di Indonesia karena umat muslim di negara ini menganggap hari raya idul fitri adalah hari raya yang kecil jika dibandingkan dengan hari raya Idul Adha. Jikalau mendapati hari raya idul Adha warga malah malu apabila tidak berkurban. Hal ini membuat perayaan Idul Fitri di negara Maroko tidak semeriah di Indonesia. Berikut adalah gambaran perayaan idul Fitri di negara Maroko :

Malam takbiran, Jika di Indonesia malam takbir sangat meriah seperti di beberapa daerah terdapat takbir keliling, anak-anak berlarian menyalakan kembang api dan terdapat lampu-lampu hias di depan rumah. Maka suasana ini tidak akan ditemukan di Maroko. Takbiran hanya dilaksanakan setelah sholat magrib saja. Tidak ada takbir keliling, tidak ada kembang api yang dinyalakan. Melainkan takbiran ini hanya  dilaksanakan di dalam masjjid ketika setelah magrib dan keesokan harinya dilaksanakan pada pagi hari raya sekitar jam 06.30 ketika sedang menunggu jamaah guna melaksanakan salat Idul Fitri. Namun hal ini membuat lebih khusuk dan memaknai arti hari raya yang sebenarnya.

Selanjutnya, kalau di Indonesia ada ketupat dan opor ayam sebagai menu wajib lebaran maka di Maroko ada pie ayam, yaitu ayam yang ditaburi almond dan dihidangkan dengan lemon dan jeruk. Selain itu ada lagi menu-menu lain yang berbau ayam yaitu dajaj muhamar atau ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama anggota keluarga dan ayam bastila (kue yang terbuat dari daging ayam). Kemudian untuk makanan ringan ada yang bernama halawiyat (sejenis manisan kue kering) yang biasa disantap idul fitri ketika bersama keluarga. Setelah itu biasanya seluruh keluarga menyantap teh khas maroko.

Kemudian untuk pakaian di negara Maroko juga hampir sama dengan Indonesia banyak yang membeli pakaian baru. Untuk wanita biasanya memakai kaftan atau takchita yang merupakan pakaian tradisional maroko. Untuk pria biasanya memakai djellaba, yaitu jubah panjang lengkap dengan penutup kepala dan sandal. Demikian adalah beberapa gambaran budaya idul fitri di Maroko yang sedikit berbeda dengan Indonesia namun tentunya tidak mengurangi kesakralan dari hari raya idul Fitri itu sendiri. Wallahu a’lam bis showab.