Inilah beberapa tempat yang terdapat di Makkah dan Madinah yang harus diketahui jemaah haji maupun umrah untuk proses menapak tilasi sejarah.

Ketika melakukan ibadah haji dan umrah atau wisata lain ketika di Arab Saudi, jemaah haji sering melihat atau menapak tilas jejak para Nabi maupun khalifah. Bayak tempat di Arab Saudi yang sering dikunjungi, diantaranya adalah sejumlah lokasi yang berada di Madinah Al-Munawarah, seperti mMasjid As-Sab’ah yang tempatnya di dekat medan perang Khandaq, Masjid Qiblatain, beberapa sumur (mata air) yang terkenal, Masjid Ghamamah, juga masjid yang dinasabkan kepada Abu Bakar, Umar, Aisyah dan lainnya.

Perbedaannya dengan tempat lainnya, tempat yang telah disebutkan diatas belum mempunyai kedudukan yang istimewa dimata syariat untuk dikunjungi, sehingga jangan sampai ada peziarah yang meyakini bahwa dirinya mendapatkan tambahan pahala dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut.

Hal ini dikarenakan, mengikuti petilasan para Nabi dan orang-orang shalih itu menjadi sebab kehancuran umat sebelum kita. Tidak baik bagi kaum muslimin menyelisihi petunjuk Nabi mereka, Muhammad SAW dan petunjuk para sahabat beliau SAW. karena bagaimanapun juga kebaikan yang paling baik terdapat pada petunjuk Nabi SAW dan petunjuk para sahabat beliau. Sebaliknya, keburukan yang paling buruk terkandung pada tindakan menyelisihi petunjuk beliau dan petunjuk para sahabat beliau.

Banyak jemaah haji maupun umrah yang bersepsi seperti di bawah ini :

  1. Mayoritas jemaah haji sangat berhasrat untuk tinggal di Madinal Al-Munawwarah lebih lama dibandingkan masa tinggal mereka di Mekkah, padahal satu kali mengerjakan sholat di Masjidil Haram itu nilainya sama dengan seratus ribu sholat di masjid-masjid lainnya. Adapaun jika mengerjakan satu sholat berjama’ah di Masjid Nabawi itu nilainya setara dengan seribu kali sholat di masjid lainnya. Selisih banyaknya pahala dan keutamaan yang telah diterangkan, harusnya jemaah haji maupun umrah lebih memilih untuk tinggal lebih lama di Makkah dibandingkan di Madinah.
  2. Mayoritas jemaah haji menyangka bahwa ziarah ke Masjid Nabawi itu termasuk bagian dari manasik haji, oleh karena itu, jemaah haji sangat bersemangat dalam melakukannya sebagaimana keinginan kuat mereka untuk menunaikan manasik haji, sampai pada tingkatan seandainya ada orang yang berhaji tetapi belum datang ke Madinah maka menurut mereka, “Hajinya Kurang!!”

Jemaah haji memandang penting hadist-hadist palsu seperti :”Orang yang berhaji tetapi tidak menziarahi aku berarti dia bersikap kasar terhadapku.”

Perkara ini sebenarnya bukanlah seperti yang mereka sangka,melakukan ziarah ke Masjid Nabawi memanglah sunnah, karena Rasulullah SAW telah mensyariatkan untuk mengerjakan sholat di sana. Akan tetapi tidak ada hubungannya antara ziarah ke Masjid Nabawi dengan haji. sedangkan tidak dilakukannya ziarah ke masjid ini tidak berdampak apapun terhadap keabsahan haji, bahkan tidak juga mengurangi kesempurnaan haji, karena ziarah ke Masjid Nabawi tidak termasuk manasik haji.