Tidak hanya negara Indonesia yang menerapkan sistem standarisasi kesehatan jemaah, ternyata di negara Dubai juga menerapkannya.

Otoritas Kesehatan Dubai (DHA) menganjurkan calon jemaah haji asal (calhaj) Uni Emirat Arab melakukan konsultasi kesehatan, sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Langkah terpenting bagi jemaah haji adalah memanfaatkan vaksin yang diperlukan,” kata Direktur Departemen Perlindungan Kesehatan Masyarakat di DHA, dr Badria Al Harmi, dilansir di Gulf Today, Selasa (2/7). 

Menurut dia, setiap calhaj harus mengunjungi dokter sekitar empat hingga enam pekan sebelum berangkat, terutama yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes. Jenis vaksin meningokokus wajib diterima setiap calhaj. Selain itu, dia menyarankan calhaj melakukan vaksinasi flu, terutama calhaj berusia di atas 65 tahun, anak-anak di bawah 12 tahun, wanita hamil, orang-orang dengan kanker atau penyakit terminal, orang-orang dengan penyakit kronis (seperti jantung, penyakit ginjal, diabetes, atau penyakit pernapasan). 

Vaksin pneumonia untuk calhaj lanjut usia (lansia) dan penderita penyakit kronis. Semua calhaj, terutama yang menderita penyakit kronis untuk mengunjungi dokter masing-masing. Sebab, menurut dia, semua calhaj dengan penyakit kronis harus memahami perawatan sendiri dari dokter, sebelum memulai ibadah haji. 

Terkadang, dokter dapat merekomendasikan perubahan dosis obat, tergantung status medis saat itu, sehingga selalu lakukan konsultasi medis sebelum ibadah.

Al Harmi meminta calhaj membawa resep dari diagnosis medis yang terperinci. Calhaj diminta membawa cukup obat, terutama jika menderita penyakit kronis yang mengharuskan konsumsi obat secara teratur. 

Dia mengingatkan calhaj dengan penyakit diabetes berisiko lebih tinggi mengalami hipoglikemia (kadar gula darah rendah). Karena itu, dia meminta penderita diabetes harus lebih sering memantau kadar gula darahnya selama ibadah haji. 

Calhaj tersebut harus selalu membawa beberapa jenis sumber gula untuk mengobati hipoglikemia. Selain itu, mereka juga perlu memastikan minum obat tepat waktu untuk menghindari hiperglikemia (gula darah tinggi).

Al Harmi mengingatkan obat-obatan harus disimpan dengan benar, terutama obat-obatan seperti insulin yang perlu disimpan pada suhu rendah. Dia meminta calhaj tidak boleh berbagi sajadah dengan calhaj lain. Selain itu, dia meminta calhaj tidak boleh menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan.

Sementara untuk menghindari dehidrasi dan kelelahan, Al Harmi mengatakan pentingnya tetap terhidrasi dan menghindari paparan sinar matahari yang lama. 

Dia menyarankan orang-orang mengenali tanda dan gejala kelelahan panas, seperti suhu tubuh yang tinggi, kelelahan, mual, kram, haus, sakit kepala, atau berkeringat berlebihan. Al Harmi meminta calhaj menggunakan pisau cukur steril saat mencukur rambut. Sebab, pisau cukur tidak steril dapat menularkan infeksi, yang ditularkan melalui darah, seperti hepatitis B.  Dia menyarankan petugas membawa calhaj ke tukang cukur berlisensi di pusat-pusat resmi. Selain itu, pisau sekali pakai atau pisau cukur pribadi harus digunakan sendiri. Al Harmi mengingatka pentingnya beristirahat dan minum air putih setelah beaktivitas. Tujuannya, membantu tubuh cepat pulih dari kelelahan.