Inilah hukum Istri yang kehilangan suaminya selama bertahun-tahun, entah kehilangan karena kecelakaan, hilang ingatan atau yang lainnya.

Ila’ adalah sumpah yang diucapkan oleh seorang suami untuk tidak akan melakukan hubungan badan dengan istrinya selama rentang waktu tertentu. Ila’ dapat terjadi dalam dua kondisi sebagaimana dibawah ini

  1. Suami bersumpah tidak akan menggauli istrinya selama kurang dari empat bulan.

Dalam keadaan ini,tindakan yang paling utama bagi suami adalah mencampuri istrinya dan membayar kaffarat dari sumpahnya. Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad SAW : “Barang siapa yang bersumpah dengan satu sumpah, lalu dia melihat ada selainya yang lebih baik, maka lakukanlah yang lebih baik itu dan gugurkanlah sumpahnya.”

Jika suami tidak membayar kaffarat sumpahnya danterus menjalani ila’ nya,maka wajib bagi istri untuk bersabar hingga berakhir waktu ila’ yang telah ditentukan olh suami dan istri tidak boleh menuntut talak.

  • Suami bersumpah tidak akan menggauili istrinya selama lebih dari empat bulan

Perbuatan yang lebih utama bagi suami adalah mencampuri istrinya dan membayar kaffarat sumpahnya. Jika suami enggan berhubungan badan denganya dan tidak membayar kaffarat sumpahnya, maka istrinya wajib bersabar dan hingga berlalu empat bulan. Setelah itu dia berhak menuntut suaminya agar mau mencampurinya atau menjatuhkan talak.

Dari Abu Shahiha, dia berkata, “Aku telah bertanya kepada dua belas sahabat Nabi tentang seseorang yang melakukan ila’. Mereka menjawab, “Tidak ada hukuman apapun atasnya selama empat bulan. Jika dia mau kembali dengan menjima’nya (maka itu bagus). Jika tidak, maka dia harus menalaknya.”

Inilah hukum istri yang kehilangan suami :

Apabila suami pergi, atau yang semisalnya lalu dinyatakan hilang,maka sebagian ulama mengatakan bahwa istri harus menunggu selama empat tahun, kemudian menjalani  iddah empat bulan sepuluh hari, sebagaimana iddah istri yang ditinggal mati suami. Setelah itu dihalalkan baginya untuk menikah kembali. Hukum ini telah dijelaskan dalam atsar yang shahih dari Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan, dan Ibnu Umar.

Sebagaian ulama berpendapat,penantian istri  (selama empat tahun) ini tidak diperlukan selama suami yang tidak diketahui keberadaanya itu telah meninggalkan bekal yang mencukupi  selama kepergiannya. Akan tetapi apabila dirinya takut terjerumus dalam fitnah,dia boleh meminta hakim untuk membatalkan pernikahannya.

Menurut buku Fiqhus Sunnah lin Nisa’, pendapat yang kuat adalah pembatasan dengan empat tahun dilakukan para sahabat hanya karena mempertimbangkan faktor sulitnya berita tersebar pada zaman mereka. Lain halnya dengan zaman sekarang, Sekiranya batasan waktu itu diserahkan kepada hakim, yakni istri mengadukan perkaranya kepada hakim karena dia merasa akan tertimpa bahaya dengan hilangnya suami, tentu hal ini lebih sesuai dengan syariat dan maksudnya yang mulai. Maka dari itu, jika terdapat seorang istri yang kehilangan suami maka serahkanlah pada hakim. Biarlah hakim yang memutuskan.