Seperti Sabda Rasulullah SAW, sholatlah yang kamu mampu, jika mampu berdiri, berdirilah. Jika mampu duduk, duduklah. Allah tidak membebankan umatnya.

Selama seseorang berakal sehat, maka kewajiban shalat tidak gugur darinya. Jika mampu dibantu wudhu’ maka harus berwudhu’. Jika tidak mampu, maka diganti dengan tayammum. Cara shalat orang yang sakit yaitu sesuai dengan kemampuannya. Ketika akan shalat popok yang dipakai oleh orang sakit tersebut harus dibuka dan diganti, karena kesucian badan, pakaian, dan tempat dari najis termasuk kewajiban yang penting dalam shalat, bahkan banyak Ulama’ memasukkannya dalam syarat sah shalat. Bagaimanapun repotnya, maka mengurusi dan membantu orang tua yang sakit dalam beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla harus kita lakukan. Memang perlu kesabaran dalam melakukannya, namun kita harus ingat bahwa itu semua merupakan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Jika kita melalaikan kewajiban tentu kita berdosa, maka hendaklah bersungguh-sungguh membantu mengurusi orang tua yang sakit tersebut.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bâz rahimahullah berkata, “Termasuk perkara yang perlu diingatkan bahwa orang sakit wajib menunaikan shalat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya. Jika mampu berdiri, maka (shalat) dengan berdiri, jika tidak mampu, maka shalat dengan duduk. Jika tidak mampu, maka shalat dengan berbaring pada satu sisinya (yaitu miring), jika tidak mampu, maka dengan terlentang. Dia tidak boleh mengundurkan shalat ke waktu berikutnya, sebagaimana sering dilakukan oleh sebagian orang yang sakit dengan harapan akan sembuh sehingga dia akan melakukan shalat dengan cara yang lebih sempurna. Padahal, orang yang sakit wajib menunaikan shalat pada waktunya sesuai keadaannya. Nabi SAW bersabda kepada sebagian sahabatnya ketika dia sakit :

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Shalatlah dengan berdiri, jika engkau tidak mampu maka (shalatlah) dengan duduk, jika engkau tidak mampu maka (shalatlah) dengan berbaring (miring). [HR. al-Bukhâri dalam Shahîhnya]

Imam Nasa’i menambahkan :

فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقِيًا

Jika engkau tidak mampu maka (shalatlah) dengan terlentang.

Berdasarkan hadits ‘Aisyah Ra yang menjelaskan tentang sholatnya orang sakit. Jika tidak mampu duduk, maka shalat sambil berbaring pada satu sisinya (yaitu miring), jika mudah, maka berbaring pada sisinya yang kanan. Jika susah, maka berbaring pada sisinya yang kiri. Jika tidak mampu, maka shalat dengan terlentang dan kedua kakinya ke arah kiblat.

Kemudian dia harus berwudhu’ jika mampu. Jika tidak mampu, maka bertayammum dengan debu. Di dekat tempat tidurnya hendaklah disediakan debu yang ditaruh dalam sebuah wadah atau kantong, dia bisa tayammum dengannya ketika tidak mampu menggunakan air. Sebaiknya ketika memandikan beliau, beliau juga disuruh untuk wudhu dan sebisa mungkin untuk menjaga wudhunya. Karena orang yang sakit tidak mungkin untuk setiap kali melakukan wudhu.