Banyak sekali cobaan yang dialami jemaah haji, bukan hanya cobaan tapi sebuah rezeki dari yang maha kuasa atas kehamilan salah satu jemaah haji.

Setiap pelaksanaan haji selalu ada yang batal dan harus menunda keberangkatannya ke tanah suci. Ada kabar bahagia atau bahkan sedih yang menimpa ribuan jemaah haji. Terdapat jemaah haji yang meninggal terlebih dahulu maupun jemaah haji yang memiliki penyakit dengan resiko tinggi, sehingga pemerintah tidak membolehkan jemaah haji untuk berangkat dan harus menunda keberangkatannya. Terdapat juga jemaah haji yang beresiko tinggi dan diganti dengan ahli warisnya.

Salah satu calon jemaah haji yang gagal berangkat ke tanah Suci pada tahun ini adalah perempuan berusia 33 tahun berinisial HF, yang merupakan calon jemaah haji asal Kabupaten Sumenep. Perempuan tersebut diputuskan tim kesehatan Embarkasi Surabaya untuk menunda keberangkatan hajinya pada tahun ini. HF yang semula tergabung dalam kelompok terbang 7, positif hamil saat pemeriksaan akhir kesehatan di Hall Mina Asrama Haji Embarkasi Surabaya.

Wakil Kepala Bidang Kesehatan Embarkasi Surabaya Acub Zaenal Amoe menjelaskan bahwasanya, usai dinyatakan positif hamil, HF lantas dirujuk ke dokter spesialis kandungan untuk menjalani pemeriksaan USG. Dari pemeriksaan tersebut, diketahui kehamilan HF saat ini berusia dua minggu.

“Setelah kami lakukan rujukan ke teman sejawat spesialis kandungan, kemudian dilakukan pemeriksaan USG, kelihatan memang umur kehamilannya tidak mencukupi walaupun ditunggu sampai akhir kloter,” kata Acub di Surabaya.

Terkait dengan penundaan keberangkatan haji ini, Acub menjelaskan terkait regulasi usia kehamilan dalam penerbangan. Menurutnya, ketika usia kehamilannya masih kurang dari 14 minggu, maka akan ditunda keberangkatannya hingga akhir kloter, untuk bisa mencapai usia kandungan yang layak terbang.

“Kalau usia kehamilannya masih kurang dari 14 minggu maka akan kita tunda keberangkatannya hingga maksimal akhir kloter  untuk bisa mencapai usia kandungan yang dibolehkan antara 14 hingga 26 minggu. Tapi ketika usia kehamilan masih awal, ditambah sisa hari pelaksanaan pemberangkatan embarkasi tidak mampu mencapai 14 minggu, maka tentunya akan kami tunda untuk tahun depan,” ujar Acub.

Karena usia kehamilan HF yang masih 2 minggu dan dinyatakan tidak layak terbang, suami yang bersangkutan pun memutuskan untuk mengikuti istrinya, menunda keberangkatan hajinya tahun ini, menjadi tahun berikutnya. Pasangan suami istri ini, meninggalkan Embarkasi Surabaya, setelah menandatangani berita acara penundaan keberangkatan haji.

Inilah yang perlu menjadi pelajaran pada tahun berikutnya, untuk melakukan tes kehamilan sebelum melakukan perjalanan haji atau sebelum menyiapkan semua peralatan haji. sehingga bisa mempersiapkan terlebih dahulu ketika mendapatkan panggilan keberangkatan.