Masalah kesehatan jemaah memang sangat penting ketika dalam pelaksanaan puncak haji, dimana jemaah berkumpul bersama ribuan jemaah dari berbagai negara.

Selain petugas relawan untuk menjaga jemaah haji, pemerintah juga menyiapkan petugas kesehatan yang bertugas untuk menangani jemaah haji ketika terhadi sesuatu atau kecelakaan kecil dalam melakukan rangkaian ibadah haji. Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja Makkah Subhan Cholid menjelaskan soal alur jemaah yang akan mengikuti safari wukuf. Prosesi itu bermula sejak keberangkatan dari Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) hingga ke Arafah dan kemudian kembali lagi ke KKHI.

Setelah PPIH Arab Saudi memeroleh data jumlah jemaah yang pasti akan disafariwukufkan dari KKHI, maka pihak KKHI menyiapkan pendamping kesehatan. Sementara itu, unit bimbingan ibadah juga akan menyiapkan petugasnya.

“Jadi, ada pendamping kesehatan dan pendamping ibadah, baik (untuk jemaah) yang duduk maupun berbaring,” kata Subhan.

Kemudian, pada hari Sabtu tanggal 10/8 pagi atau memasuki tanggal 9 Dzulhijah 1440 Hijriah, tim safari wukuf akan menginstruksikan agar bus-bus yang diperlukan merapat ke KKHI.

Untuk saat ini, terdapat sebanyak 10 unit bus yang dipersiapkan dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk dapat menampung jemaah haji. Dengan begitu, jemaah yang hanya mampu berbaring atau duduk di kursi roda, misalnya, dapat memasuki bus tersebut. Hal ini dikarenakan dalam kondisi apapun, jemaah haji wajib melakukan wukuf di Padang Arafah.

“Setelah siap, mereka diberangkatkan ke Arafah,” ujar Subhan.

Di Padang Arafah, area wukuf jemaah safari tak sama dengan jemaah haji reguler. Sebab, jemaah haji reguler ditempatkan di area taradudi sehingga mengikuti alur perjalanan yang telah ditentukan sebelumnya.

Adapun safari wukuf ini tidak akan lama berlangsung. “Hanya beberapa saat. Yang penting, memenuhi rukun. Secara fisik hadir di Arafah,” terang Subhan.

Setelah melaksanakan wukuf, jemaah haji tersebut kembali ke KKHI. Mereka akan kembali menjalani perawatan medis yang diperlukan. Menurut Subhan, jemaah setelah wukuf akan kembali di bawah koordinasi pembimbing ibadah. Ini untuk menentukan, apakah pengganti pelaksanaan wajib haji jemaah, semisal lempar jumrah, dapat dilakukan petugas haji atau, umpamanya, pihak keluarga jemaah yang bersangkutan.

“Mereka (jemaah safari wukuf) tak kena dam atau denda. Karena mereka diwakili yang artinya melaksanakan wajib haji. Kalau tak melaksanakan, baru kena dam,” kata Subhan menjelaskan.