Hampir setiap tahunnya, jemaah haji Indonesia selalu mendapat predikat jemaah haji yang tertib, dan disiplin diantara jemaah haji lainnya.

Berbagai pujian dilontarkan kepada pengelolaan haji Indonesia maupun jemaahnya. Bahkan, jemaah haji Indonesia sebagai jemaah  terbesar di dunia setiap tahunnya kerap mendapat predikat jemaah haji paling teratur, tertib, dan disiplin.

Pengakuan itu dilontarkan oleh banyak pihak. Untuk tahun ini saja, di antaranya, Imam Masjid Al Haram Syekh Hasan bin Abdul Hamid Al Bukhari, Gubernur Madinah Pangeran Faishal bin Salman, Direktur Haji dan Umrah Diyanet (Direktorat Urusan Keagamaan Turki) Ramzi Birjan, hingga Ketua Rombongan Haji Malaysia Dato’ Sri Syed Saleh Bin Syed Abdul Rahman.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Indonesia pernah dipilih secara resmi menjadi jemaah haji terbaik di dunia oleh World Hajj and Umrah Convention (WHUC) pada 2013. Dari sisi kesehatannya, pada 2018 lalu Pemerintah Arab Saudi melalui Komite Kantor Urusan Haji Makkah Al-Mukarramah  memberikan penghargaan pelayanan kesehatan jemaah haji Indonesia yang terbaik dari seluruh negara.

Menurut Subhan, hal tersebut dimulai dari keberangkatan jemaah dari Tanah Air ke Tanah Suci. Di mana, proses pergerakan jemaah yang sangat besar itu tidak akan rapih kalau tidak ada jadwal yang bisa dipakai untuk panduan pergerakan jadwal tersebut. Jadwal tersebut menjadi pijakan dari seluruh kegiatan rangkaian kegiatan jemaah selama di Tanah Suci.

Misalnya, pada tahun ini keberangkatan jemaah haji Indonesia yang terbagi dalam 529 kelompok terbang (kloter). Di mana, seluruh petugas haji Indonesia baik yang di kloter, PPIH embarkasi, PPIH Pusat, dan PPIH Arab Saudi sudah memberikan pengorganisasian yang sangat jelas.PPIH Daker

Dengan penjadwalan dan laporan yang lengkap, para pemangku kepentingan haji di Arab Saudi sudah mempersiapkan dan melayani jemaah. Di mana, mereka sudah bisa memperkirakan apa yang harus dilakukan untuk jemaah Indonesia.

Setiap kloter jemaah haji Indonesia itu sudah ada pengurusnya mulai dari ketua kloter. Di mana, ketua kloter membawahi 7-10 ketua rombongan yang satu rombongannya terdiri dari 45 orang. Dan, di bawah ketua rombongan ada empat ketua regu di mana satu regu ini terdiri dari 11 orang jemaah haji.

Ketika terdapat kloter yang datang dalam waktu bersamaan, para petugas haji sudah membuat tim. Dan, tim ini ada yang melayani kloter A atau kloter C sehingga petugas haji Indonesia memiliki mekanisme sendiri. Misalnya, ada satu rombongan di lantai 6, maka pihak Saudi sudah tahu ketika buka lantai 6 yang masuk jemaah mana. Kemudian, ketika pengangkutan bagasi baik pulang maupun berangkat, kita sudah punya mekanisme sendiri.

Sehingga, Arab Saudi tinggal melihat warna kopernya itu tanpa harus berdiskusi. Ini seluruh tas jemaah haji Indonesia seragam.

Misalnya, ada kasus koper tertinggal. Di kloter misalnya ada 450 tas tetapi yang diangkut baru 400, maka ketika dicari akan mudah ditemukan tinggal melihat warnanya saja. Jadi pemangku kepentingan di Arab Saudi itu terima jadi saja. Umpamanya mereka mengurus dua kloter dengan jumlah 900 orang, mereka tak perlu komunikasi dengan 900 orang tetapi cukup dua orang saja yaitu petugas kloter.