Hampir setiap tahun,pelaksanaan haji jemaah Indonesia selalu mengalami kenaikan dan selalu dalam posisi suksesnya pelaksanaan haji.

Haji tahun ini telah mencapai pada tahap pemulangan jemaah haji. Banyak pihak mengakui bahwa pelaksanaan ibadah haji Indonesia tahun 2019 ini sangat baik dan sukses. Baik dari sisi akomodasi (pemondokan), transportasi hingga katering (makanan untuk jemaah).

Pengakuan itu berasal dari berbagai pihak seperti Turki, Malaysia, India, bahkan sejumlah jemaah haji dari negara lain yang senantiasa mengacungkan jempol untuk pelayanan kepada jemaah haji Indonesia. Tidak hanya dari luar negeri, dari dalam negeri, mulai dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama yang merupakan pengawas internal haji di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag).

Sekretaris Itjen Kemenag, Muhammad Thambrin, mengatakan bahwasanya, secara umum pihaknya melihat pelaksanaan ibadah haji Indonesia, termasuk layanan dari para petugasnya, sangat baik dan bagus. “Yang perlu ditingkatkan lagi adalah bagaimana pelayanan bimbingan ibadah kepada jemaah haji dapat lebih ditingkatkan lagi,” kata Thambrin dalam keterangan pers-nya kepada tim Media Center Haji (MCH) di Daker Madinah.

Ia menyoroti soal pemahaman ibadah jemaah haji akan hal-hal teknis ibadah, bagaimana jemaah memakai pakaian ihram, memahami rukun, syarat, dan wajib haji, hingga tata cara beibadah haji. Thambrin mengungkapkan bahwasanya, pihak Kemenag sebenarnya sudah sangat optimal dalam memberikan bimbingan ibadah kepada jemaah haji. Hal ini terlihat dari pelayanan bimbingan manasik yang diberikan. “Ada 10 kali pelatihan dan bimbingan manasik melalui Kantor Urusan Agama (KUA) di tingkat kecamatan, dan dua kali di kantor Kemenag Kabupaten/Kota,” kata dia.

Dari 12 kali pertemuan itu, lanjut Thambrin, semestinya jemaah mampu memahami bimbingan ibadah dengan baik terkait tata cara dan mengenai syarat, wajib, dan rukun haji. “Saya melihat, masih ada jemaah kita yang belum memahami ibadah haji dengan baik, sehingga masalah bimbingan ibadah menjadi kurang diperhatikan,” terangnya.

Padahal, lanjut Thambrin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta pelaksanaan ibadah haji tahun depan agar persoalan manasik dan bimbingan ibadah ini sebagai fokus perbaikan pelayanan kepada jemaah haji. “Sangat disayangkan bila apa yang sudah disampaikan Menag, namun masyarakat kita khususnya jemaah haji belum maksimal dalam memanfaatkan layanan manasik yang sudah diberikan,” ujarnya.

Karena itu, kata dia, hal ini juga harus menjadi perhatian Kementerian Agama pada penyelenggaraan haji tahun berikutnya agar menjadi lebih baik lagi. “Tentu ini menjadi dambaan dan harapan kita semua bahwa penyelenggaraan haji, tidak hanya sukses dari sisi akomodasi, transportasi, dan katering, tetapi juga dari sisi pembimbingan ibadah menjadi lebih baik,” terangnya.

Jika hal ini bisa terwujud, kata Thambrin, maka bolehlah lebih berbangga diri karena kualitas ibadah juga makin baik. “Jadi bukan hanya sukses dari sisi kuantitas dalam jumlah jemaah yang besar, tetapi juga kualitas dari layanan ibadah dan pemahaman jemaah haji Indonesia yang meningkat,” pungkasnya.